30 Juz dalam Cahaya Cinta

Pemesanan buku

3D Book

Shopee

Tokopedia

Whatsapp

Sinopsis
Azkiya Mumtaza Seorang gadis penghafal Al-Qur’an yang telah terikat janji oleh orang tuanya untuk setia bersama Al-Qur’an. Namun suatu saat janji orang tuanya justru mendustakannya, hingga menyakitinya. Silih berganti ujian hidup ia hadapi setelah meng-khatamkan hafalannya. Hingga suatu saat ia menjadi sosok yang putus asa dan jauh dari rahmat Allah. Azkiya hanyalah seorang gadiss yang tengah memperjuangkan mimpi orang tuanya. Namun kenapa seolah 30 juz itu justru membelenggu hidupnya penuh nestapa? Apakah ia bisa bertahan atas semua penderitaan hidup yang silih berganti mengujinya, ataukah justru harus menyerah? Dan bagaimana jika tiba-tiba ada ulur dari tangan seorang laki-laki yang membantunya, melepas ikat erat belenggu ujian hidupnya? Membantunya sepenuh hati dan membawanya kembali pada cahaya Al-Qur’an yang penuh cinta? Selamat membaca kisah ini. Semoga setelahnya kalian bisa menemukan pelajaran hidup yang penuh makna.

Aku terbangun dari posisi. Kulirik sebuah jam yang tertancap di dinding ruang ini. Pukul 01.15 AM. Masih terlalu pagi untuk melaksanakan sebuah ibadah tambahan. Karena rutinitas di sini, mayoritas seluruh santri melaksanakan tahajjud di jam 2.30 pagi.

Kulirik seluruh teman-teman, tampaknya mereka begitu pulas. Namun untuk diriku, kenapa sejak tadi tidak bisa terlelap seperti mereka? Aku gelisah, gundah, dan entahlah… pikiranku bercabang kemana-mana.

Tiba-tiba, air mataku berdenting. Sekelebat bayangan mengenai tempo hari– sejak tadi mengusikku. Saat di mana Ayah datang ke pesantren menjengukku. Ada sesuatu yang berbeda darinya. Tak biasanya Ayah datang seorang diri. Biasanya ia selalu bersama Ibu. Tetapi untuk kali itu, tidak. Ia bilang bahwa ia tidak bisa bersama Ibu mengingat Ibu sedang kurang sehat. Aku tak apa. Berharap bahwa Ibu cepat sembuh.

Saat itu, Ayah memberikan sejumlah uang diluar perkiraanku. Ia memberiku uang sebagai biaya hidupku di pesantren ini sampai 5 bulan mendatang. Tak biasanya Ayah memberikan uang sebanyak itu secara tiba-tiba. Kutanyakan mengapa alasannya, ia bilang kalau untuk beberapa bulan mendatang tak sanggup untuk datang kemari lagi mengingat banyaknya jadwal yang harus dikerjakan. Ia juga bilang kalau Ayah tak bisa lagi datang bersama Ibu karena padatnya jadwal yang Ayah miliki.

Aku tak apa, selama hubungan mereka masih normal dan biasa, bukan menjadi suatu masalah untukku.

Namun, keesokan harinya Ibuku tiba-tiba datang sendiri. Ibu melempar senyum hangatnya kepadaku. Senyum yang begitu lembut dan tulus. Seakan senyuman itu adalah suatu wujud kerinduan sang Ibu pada anaknya. Kupeluk Ibu setelah mengecup tangannya.

“Ibu, apa kabar?” Tanyaku waktu itu. Aku begitu mengkhawatirkan keadaannya.

Alhamdulillah… Ibu baik. Kamu bagaimana, Nak?”

“Azkiya baik. katanya Ibu sedang sakit?”

Ibu tersenyum. “Kata siapa? Ibu sehat kok.”

“Ayah kemarin datang. Katanya Ibu sakit.”

Sejenak, Ibu terdiam. Ada gurat aneh di wajahnya yang tidak bisa kuterka. “Ah…  Jadi kemarin ayahmu datang kemari?” Tanyanya yang sontak membuatku bingung seketika. Jadi Ibu belum tahu kalau kemarin Ayah kemari?

“Loh, Ayah tidak bilang sama Ibu, kalau Ayah datang kemari?” Tanyaku retoris. Sungguh, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres waktu itu.

Tiba-tiba ada guratan aneh yang menyembul dari wajahnya. Seakan ada suatu hal tragis yang Ibu alami. Aku tak tahu perasaan macam apa yang tengah Ibu rasakan. Namun seketika itu, Ibu langsung menarik tubuhku, merengkuhku dan tergugu di atas bahuku.

“Ibu bercerai dengan Ayahmu, Nak.” Ungkapnya dalam pelukanku

DEG!

Aku mematung. Tubuhku beku seakan tak mampu lagi bergerak. Sebuah halilintar terasa menyengatku begitu kasarnya setelah mendengar pernyataan Ibu.

Allah… Kenyataan macam apa ini yang aku dengar? Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Bukankah mereka telah berjanji kepadaku bahwa mereka tidak akan melakukan hal itu andai aku mau menuruti keinginan mereka?

Ya, aku ingat betul. Sebuah perjanjian yang dulu sempat kami lakukan sebelum keberangkatanku ke pesantren ini. 2 tahun yang lalu saat dimana keadaan keluargaku yang begitu genting hingga mengakibatkan aku harus menuruti keinginan mereka agar mereka tak berpisah. Aku diharuskan pergi ke pesantren untuk menghafal Al-Qur’an. Namun nyatanya, disaat aku telah memperjuangkan semuanya demi mempertahankan janji itu, justru mereka mengingkari. Aku telah berhasil mewujudkan mimpi mereka. Aku telah menjadi seorang Khotmil Qur’an sekarang. Dan lihatlah! Sekarang apa yang terjadi? Perjanjian itu tak berlaku sama sekali. Tiga Puluh Juz yang selama ini kuperjuangkan rupanya tak ada gunanya.

Memang, sejak dulu tak jarang Ayah dan Ibu saling beradu argumen. Mereka kerap berdebat mengenai hubungan mereka saat itu. Awalnya, aku tak tahu apa yang menyebabkan mereka mendadak menjadi seperti itu. Semenjak kepulangan Ayah dari luar kota, mereka selalu ribut, berdebat dan bertengkar. Tak cukup kata cerai muncul sekali, dua kali, atau tiga kali. Aku yang menjadi peran diantara mereka tentu lama-lama merasa terganggu. Aku lelah yang setiap hari menyaksikan keributan mereka. Aku memberontak. Aku tidak menginginkan mereka bercerai hanya sebuah keributan yang selalu mereka perdebatkan.

Ya, mereka ribut dan berdebat karena semenjak Ayah pulang dari tugasnya di luar kota itu, Ayah mengajak kami ke sebuah aliran Islam yang berbeda dari sebelumnya. Namun waktu itu, Ibu tak menyetujuinya. Aku pun demikian. Dari itulah, atas dasar perbedaan sebuah kepemahaman di tengah-tengah keluarga kami, mereka terus saja beradu. Aku menangis sejadinya waktu itu. Kehangatan rumah tangga yang dulu selalu kami rasakan berakhir sampai di situ. Aku berlari menuju kamar. Menangis seorang diri lantaran hal buruk yang kuterima saat itu.

Ayah dan Ibuku waktu itu datang. Mereka menghampiriku ke  kamar. Aku tahu, mereka sangat menyayangiku. Ya, tentu saja sebagai seorang anak satu-satunya yang mereka miliki, tidak ingin melihat anaknya menangis. Aku mengatakan bahwa aku menginginkan mereka untuk tidak berpisah. Apa pun akan kulakukan demi keutuhan mereka. Hingga akhirnya, mereka menuruti keinginanku asalkan aku juga mau mengikuti keinginan mereka. Mereka menginginkan aku untuk menjadi seorang Tahfidzul Qur’an. Dan dengan mudahnya aku pun menyetujuinya. Perjanjian waktu itu sempat kami pertahankan hingga akhirnya aku mampu meraih 30 Juz itu.

Namun untuk sekarang, di mana perjanjian dua tahun itu, Ya Allah? Kenapa dengan mudahnya mereka mengingkarinya? Mereka menghancurkan perjanjian itu. Ya, mereka berhasil menghancurkan aku. Mereka memutuskan untuk berpisah, maka mereka pun juga menginginkan aku untuk berpisah dengan mereka.

Sekarang, aku juga akan berpisah karena kalian. Keputusanku disini sejak dua tahun yang lalu karena mereka. Bahkan betapa buruknya hatiku yang meniatkan menghafalkan ayat-ayat suci itu hanya karena mereka. Bukan karena Allah. Sejatinya aku tengah berjuang besar-besaran untuk meraih keikhlasan karena ridha Allah. Namun rasanya begitu sulit. Sampai sekarang, hingga hafalanku telah khatam, masih terasa jelas bahwa semua hanya demi mereka. Namun kenapa, ketika mereka yang telah kuperjuangkan justru berupaya menghancurkanku?

Sungguh, aku menghafalkan karena kalian.

Dan sekarang, aku pergi berpisah juga karena kalian.

Aku menghela napas. Mencoba menepis bayangan itu. Aku lelah. Lalu memutuskan bangkit. Mengikuti kata hati yang sejak tadi berkontradiksi dengan akal sehat. Mungkin pergi dari sini adalah keputusan terbaik. Toh, untuk apa pula jika aku tetap bertahan andaikan semuanya telah hancur?

Dengan tapak kaki yang mendekati lemari, aku mengambil beberapa baju. Memasukkannya ke dalam tas, serta mengambil sejumlah uang yang dua hari lalu Ayah kirimkan padaku. Terakhir, aku melihat mushaf-mushaf yang tertata di atas rak. Hatiku tiba-tiba bergetar. Membisikkan sebuah kalimat, apakah aku masih bisa memperjuangkan hafalanku? Melancarkan hafalanku? Sedangkan setelah aku memperjuangkannya justru mendapatkan sebuah kejutan terburuk?

Air mata berdenting saat itu juga. Kuraih sebuah Al-Qur’an terjemah. Siap atau tidak siap, aku harus menghadapinya. Aku memasukkannya ke dalam tas, kemudian menggendongnya dan segera keluar dari kamar. Kamar kami yang didiami oleh 9 orang.

Sekarang, aku benar-benar meninggalkannya. Meninggalkan kalian semua dan seluruh teman-teman Ponpes putra atau pun putri yang tengah berjuang disini.

Endap-endap langkah ini ku buat sepelan mungkin. Berjalan melintasi panjangnya aula. Butuh perjuangan besar untuk mencapai pintu utama. Karena biasanya, ada salah satu santri yang kerap bermuroja’ah di sudut aula ini. Dia selalu saja bermuroja’ah disaat semua santri telah tertidur. Dan benar dugaanku, aku melihat dia sedang duduk bersila seraya membawa mushaf yang ia jadikan sebagai hafalannya. Begitu serius dan seolah sangat menikmati setiap hafalannya. Terkadang aku selalu berpikir, kapan aku bisa seperti dia?

Ukhti Azkiya..” Panggilnya saat ia melihatku. Aku gugup seketika, “Ila aina anti?” tentu saja dia menanyakan hal itu. Dia melihatku membawa tas yang sedikit besar.

“Ah, Ukhti…” Aku mendekatinya. Berjongkok dihadapannya dan meraih tangannya, “Ukhti, sa’iduni... Aku sedang butuh bantuan.” Kataku sedikit mendesak, memohon padanya. Mungkin saja ia bisa membantuku. Masalahnya, Ukhti yang satu ini, yang memiliki nama Salma, ia adalah santri yang sudah mengabdi cukup lama di sini. Namun statusnya bukan menjadi lurah atau pun pengurus. Hanya sekadar santri biasa yang tengah mengabdi.

Kaifa, Ukhti?”  Tanyanya.

“Aku tengah bermasalah. Masalah keluarga. Aku mau pulang. Dan itu harus sekarang. Tidak bisa menunggu satu jam kemudian apalagi besok. Maafkan aku, Ukhti, jika perbuatanku sangatlah buruk. Tolong jangan katakan pada siapapun kalau aku kabur. Aku mohon ukhti…” jelasku memohon. Berupaya penuh merayunya.

“Tapi ini sungguh pelanggaran besar, Ukhti Azkiya. Ukhti bisa ditakzir.

Afhimni… tapi ini benar-benar genting. Aku mohon, ukhti.” Raungku memohon. Ia tampak menimbang. “Hanya untuk sekarang saja. Jika aku sudah berhasil pergi, Ukhti terserah mau bilang apa sama seluruh santri.”

Diam sesaat sebelum akhirnya menjawab, “Insya Allah perbuatanmu akan ditindak lanjuti, Azkiya.”

Aku mengangguk setuju. Karena memang begitulah peraturannya. Aku yang bertindak, aku pula yang harus siap konsekuensinya. “Na’am, syukron katsiron, Ukhti.” Ucapku.

Aku bangun dan hendak pergi. Namun tiba-tiba teringat suatu hal yang membuatku menghadapnya kembali.

Ukhti, aku mau nitip sesuatu boleh?”

Madza?”

Aku mengeluarkan lipatan kertas. Sebuah surat yang kutunjukkan untuk seseorang. Seseorang yang selama ini telah bersabar membimbingku dan mengajakku untuk terus betah dan sabar di sini. Mas Zidan, santri putra yang tengah menghafal Al-Qur’an semenjak empat tahun silam. Ia masih dalam masa pengabdian di sini. Ia pula yang dipasrahkan oleh orang tuaku untuk membimbingku di sini. Dia adalah tetanggaku yang dulu semasa kecil kerap bermain denganku.

“Surat untuk Kang Zidan.” Kataku seraya menyerahkan surat itu.

“Kang Zidan? Insya Allah…”

Aku lega mendengarnya. Akhirnya, niatku kali ini berjalan lancar.

Begitu aku keluar dari area pondok pesantren, sesaat aku membalikkan badan. Melihat sebuah bangunan itu dengan hati yang teramat berat. Ya Tuhan, rasanya aku tidak ingin meninggalkan tempat ini. Tapi bagaimana lagi? Takdir Tuhan telah menetapkanku untuk berpisah. Baik dengan orang tua maupun dengan kalian semua, teman-teman… Termasuk juga Mas Zidan.

Sungguh maafkan aku, Mas Zidan, aku mengecewakanmu. Insya Allah, jika Tuhan masih mengizinkan aku untuk bertemu denganmu, kita akan bertemu diwaktu yang paling tepat.

Setetes air mata, kini menjatuh. Buru-buru kuseka sebelum akhirnya akan terlanjur parah. Kuputuskan untuk segera pergi dan meninggalkan kota ini. Kota di mana aku memulai mimpi bersama para pejuang yang Insya Allah akan mendapat rida-Nya.

Selamat tinggal pondok pesantren…

Selamat tinggal kota Kudus…

Dan selamat tinggal buat kalian semua yang masih berjuang. Kita harus berjuang di jalan yang berbeda.

“Tegasnya, sesungguhnya kemuliaan seseorang tidak dilihat dari penampilannya ataupun banyaknya materi yang dimilikinya. Tetapi dilihat dari sejauh mana manfaat yang diberikan kepada orang lain.”

*

Gerak langkah kaki itu semakin bertempo cepat. Beriringan dengan hatinya yang masih kacau, Azkiya tidak tahu harus pergi ke mana sekarang. Pikirannya masih terus bercabang memikirkan tentang takdir buruknya. Dalam kesendiriannya, di malam-malam seperti itu ia berjalan menyisir trotoar jalanan. Dia masih sadar. Pukul 2 lebih. Mana ada sebuah kendaraan umum lewat? Jangankan kendaraan umum lewat, kendaraan-kendaraan pribadi pun tampak sepi. Lambat laun, ia merasa kedinginan saat udara malam berhembus di sekitarnya, terasa menusuk tulangnya.

Tak sengaja, ia melihat sebuah bangunan masjid kota. Di sana masih ada beberapa orang yang berseliweran walau sekurang-kurangnya tidak genap sepuluh orang. Tampak yang masih beraktivitas di halaman masjid itu rata-rata mereka seorang pengunjung yang sedang mampir di masjid. Ada keniatan khusus bagi Azkiya untuk masuk ke dalamnya. Ia butuh istirahat. Ia belum shalat tahajjud dan hajat. Kesempatan itu tak disia-siakan lagi baginya. Ia langsung mengunjunginya.

Azkiya segera pergi ke tempat wudhu bagian wanita. Ada perasaan khusus yang ia dapatkan setelah melaksanakan wudhunya. Hatinya terasa lebih ringan, longgar, dan lega. Ia sadar, karena nikmat Tuhan apabila mau disadari betapa indahnya untuk dirasa. Namun entahlah, apakah sesuatu yang ia alami sekarang merupakan sebuah kenikmatan yang indah pula?

Seusai berwudhu, Azkiya melaksanakan salat sunah sebagai tambahan. Tak lupa memohon diri untuk selalu berada dalam lindunganNya. Memohon agar Tuhan mau menata hatinya kembali yang telah berantakan.

Sekelebat bayangan mengenai orang tuanya terus mengusik keseriusannya saat berdoa. Membuatnya lagi-lagi menangis. Dan entahlah, ia tak bisa merasakan ketenangan ketika bayangan kedua orang tuanya itu muncul. Sungguh, anak mana yang hatinya tak hancur ketika mendengar bahwa orang tuanya sendiri sudah bercerai?

Ia ingat betul bagaimana dirinya dulu yang selalu menikmati hidup bersama keluarganya. Terasa begitu hangat, indah, dan membahagiakan. Namun untuk sekarang, ia malah merasakan semuanya menjadi serba bertolak belakang. Seiringan dengan bayangan itu, lamat-lamat ia merasa matanya berat. Ia tertidur di atas tempatnya shalatnya. Membiarkan dirinya beristirahat karena untuk nanti pagi ia juga harus sudah pergi melakukan perjalanan yang mungkin amat panjang.

***

“Dimohon untuk para penumpang kereta api, agar segera mempersiapkan diri. Karena lima menit lagi kereta segera diberangkatkan!”

Seruan pengumuman itu membuat semua orang mendadak berhiliran, menempatkan posisi yang nyaman dan tepat. Termasuk juga seorang gadis berjilbab merah muda yang kini tengah duduk di jok bersebelahan dengan jendela. Hanya duduk sendirian, tak ada yang duduk di sebelahnya seperti halnya jok yang lainnya.

Azkiya, ia tak tahu kenapa tiba-tiba bisa menaiki sebuah kereta yang bertujuan ke kota Jakarta. Awalnya, ia sugguh bingung harus pergi ke mana. Tak mempunyai tujuan untuk kepentingan kali ini. Yang ada hanyalah sebuah kenekatan yang kuat demi menghindar dari takdir buruknya. Pada intinya, ia hanya ingin berpisah dari semua orang yang mengenalnya, terutama orang terdekatnya. Yaitu orang tuanya. Ia sungguh tak akan kembali andai mereka belum bersatu lagi.

Dalam lamunannya yang masih menghadap ke jendela, tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang hadir di dekatnya. Ia menoleh, melihat seorang laki-laki bertubuh kekar serta berpenampilan menyerupai preman. Kaos polo berwarna abu-abu yang dirangkap dengan jaket hitam dan celana panjang yang sudah cacat di bagian lutut. Memiliki wajah yang sedikit sangar, namun memancarkan aura yang wibawa. Telinganya bertindik hitam. Entahlah, siapa lelaki ini yang Azkiya temui dan duduk tepat disisinya.

Azkiya menelan ludahnya berat mengamati penampilan lelaki itu. Di hatinya menyimpan sebersit rasa takut. Sebelumnya ia tak pernah pergi sendirian dan menemui seseorang yang terkesan menakutkan seperti ini. Di beberapa film televisi, yang ia ketahui seseorang yang memiliki ciri-ciri seperti ini adalah dia yang berdominan dengan kriminalis.

Ya Tuhan… Azkiya bergidik ngeri melihatnya. Sebuah tas yang ia bawa dipeluknya erat. Tatapannya penuh was-was.

Tiba-tiba, lelaki itu menoleh, menatap Azkiya dengan tatapan agak aneh. Azkiya semakin diliputi rasa takut. Ia memutuskan menghadap ke jendela kembali. Jantungnya berdegup cepat bukan main. Entahlah, di pikirannya ia tak tahu harus berbuat apa sekarang.

“Mbak seorang santri?” Tanya lelaki itu tiba-tiba. Membuat Azkiya terlonjak.

Azkiya menoleh dengan kadar jantung yang tak karuan. “..I..ya…” jawab Azkiya takut. Giginya menggigit bibir bawahnya.

“Nyantri di mana?”

“..Di Kudus.”

Lelaki itu manggut-manggut. Ia juga tahu, dari jawaban dan mimik wajah yang gadis itu perlihatkan, nampak seperti ketakutan dengannya. “Tidak usah takut sama saya, Mbak. Saya tidak akan menjahati Mbak kalau Mbak tidak mengganggu saya.” Katanya. Membuat Azkiya langsung mengernyit.

Azkiya hanya diam, tak berani menjawab. Mungkin akan lebih baik jika ia kembali menghadap ke jendela. Menatap pada sebuah langit yang sudah mulai cerah dan bersih. Menandakan ciptaan Allah begitu luar biasanya untuk dipahami bagi orang-orang yang mau berpikir.

Sesaat, Azkiya masih bernapas gusar. Tidak ada kenyamanan yang ia dapatkan. Di hatinya tidak lenyap untuk selalu berzikir. Meminta perlindungan pada Tuhannya. Beberapa menit ke depan, terasa hening. Tidak ada sebuah suara di sini. Semenjak perkataan lelaki tadi, membuat hati Azkiya terasa gusar. Ia sungguh bingung sekarang.

“Halo?!”

Azkiya mendengar, lelaki di sebelahnya baru bersuara. Lelaki itu tengah mengangkat telepon. Azkiya semakin memperhatikannya.

“Masih di perjalanan.”

“…..”

“Jangan sampai dia terlepas. Tetap awasi dia. Jangan biarkan ia melarikan diri!”

“…..”

“Sekitar 2 hari lagi aku akan menemui kalian.”

“…..”

“Baiklah, jaga pengawasan kalian dengan ketat! Kalau bisa jangan sampai pihak polisi tahu lebih dulu. Aku tidak akan melibatkan pada polisi sebelum semuanya jelas.”

“…..”

“Ya.” Lelaki itu mengakhiri percakapannya dengan menekan tombol merah pada ponselnya.

Azkiya yang memperhatikannya sejak tadi, dadanya semakin bergemuruh. Ia mendengar dengan jelas perkataan demi perkataan dari lelaki itu. Apalagi Azkiya mendengar dengan adanya kata polisi yang dilibatkan dalam pembicaraan itu. Ya Tuhan… Tak diragukan lagi bahwa lelaki ini memang seorang kriminalis.

Ingin sekali Azkiya menangis. Kenapa dirinya harus disertakan dalam ruang bersama seseorang seperti ini? Namun bagaimana lagi? Apakah ia harus bangkit dan pergi dari tempat duduknya sedangkan di sini ia tengah melakukan perjalanan yang amat panjang? Astagfirullahal aziim... Kuatkan hati hamba, Ya Allah…

“Mbak, kau ini seorang Hafidzah?” Tanya laki-laki itu tiba-tiba. Azkiya tentu saja kaget. Darimana lelaki itu tahu kalau dirinya memang seorang Hafidzah? Padahal lelaki itu seorang preman yang mana mungkin akan tahu dan mengucap dengan kalimat itu?

“Eh…” Azkiya gugup. Ia masih diliputi rasa gelisah.

“Saya tahu dari raut wajah Mbak. Terlihat berbeda dan lebih bercahaya. Biasanya seorang penghafal akan terlihat lebih bersinar.” Katanya dengan gestur santai.

Azkiya lagi-lagi terkejut. Ya Allah… Dan ini bahkan dia bisa membedakan mana seseorang yang benar-benar menghafal Al-Qur’an dengan yang tidak? Bahkan manusia biasa pun terkadang belum tentu bisa menilai dan membedakan tentang kepribadian seseorang. Namun untuk lelaki ini yang notebane-nya seperti preman, ia tahu dengan semuanya?

Tidak ada hal lain lagi yang bisa Azkiya lakukan kecuali sebatas senyum masam. Azkiya hanya diam dan mengalihkan perhatiannya lagi pada penyuguhan alam yang ada di balik jendelanya.

“Mbak mau mudik ke Jakarta?” Lelaki itu lagi-lagi melempar pertanyaan.

“Saya cuma mau berkunjung ke Jakarta. Mencari ketenangan.”

“Mencari ketenangan?” Lelaki itu mengernyit. “Kenapa harus ke Jakarta? Bukankah di Jakarta itu kotanya sangat keras, membosankan dan menantang?”

Mana mungkin Azkiya tahu tentang kota metropolitan itu. Sekali pun ia belum pernah berkunjung ke ibu kota tanah air. Sejak dulu Azkiya hanyalah seorang gadis rumahan yang biasanya selalu membantu ibunya untuk menjahit di rumahnya sendiri. Ini baru kali pertamanya Azkiya berkunjung ke Jakarta. Dan bahkan ia akan menentukan hidupnya pula di sana. Biarlah! Ini adalah keputusannya. Sekeras apapun dan tantangan yang akan ia hadapi di Jakarta, ia harus siap melauinya.

Azkiya menggeleng. “Entahlah…”

“Punya saudara atau siapa yang ada di Jakarta, Mbak?”

“Tidak punya.”

“Kalau ikut saya, apa Mbak mau?” Celetuk lelaki itu. Sontak Azkiya terkejut dan takut.

Ya Tuhan, apa maksudnya?

“…Ee… Maaf, saya pergi ke Jakarta hanya sedang ingin mencari pekerjaan khusus. Bukan untuk ikut orang lain yang belum saya kenali.” Jawab Azkiya penuh kecemasan. Ia hanya ingin terhindar dari lelaki itu. Namun bagaimana caranya?

“Saya cuma bercanda, Mbak. Lagi pula mana mungkin saya berani mengajak seorang muslimah seperti Mbak ke tempat saya. Maaf bila perkataan saya lancang. Abaikan saja.” Jelasnya seraya menyimpan tawa di dalam dada. Bibirnya melengkung ke atas saat Azkiya menatapnya. Terlihat begitu manis. Namun sayang, keelokan tampang pria ini sepertinya tertutupi akan tingkah lakunya dan penampilannya.

Azkiya mengangkat senyum getirnya. “Tadi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan Anda di telepon. Maaf, kenapa melibatkan dengan polisi segala?” Entah dapat keberanian dari mana Azkiya bisa menanyakan hal itu pada lelaki mengerikan tersebut.

“Oh… Tadi saya menelepon anak buah saya. Saya sedang menculik seseorang. Saya mengutus mereka untuk tetap mengawasi seseorang yang saya culik.” Jelasnya ringan.

Sungguh, kali ini Azkiya syok bukan main. Matanya membelalak lebar seakan tak menyangka bahwa lelaki yang duduk di sebelahnya adalah seorang penculik. Masya Allah, bagaimana hal ini bisa terjadi?!

“Jadi Anda ini adalah seorang….

“Penculik!” Lengkap lelaki itu dengan santainya.

Azkiya tergagap. Tentu saja pikirannya diliputi perasaan takut, panik dan khawatir. Ia merapatkan tubuhnya pada jendela kereta. Ia sungguh ingin menjauh dari lelaki di sampingnya sekarang juga.

“Mbak tidak usah setakut itu. Kalau Mbak tidak macam-macam sama saya, saya tidak akan mengganggu Mbak.” Kata lelaki itu bermaksud menenangkan Azkiya.

“Tapi Anda ini seorang penculik. Anda harus dilaporkan pada pihak kepolisian!” Pekik Azkiya.

“Kalau kau mau lapor pada polisi, itu artinya saya akan menculikmu lebih dulu. Kau mau?” Ancam lelaki itu dengan posisi mendekati Azkiya. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya menjulur pada bagian jendela yang digunakan sebagai tempat bersandar Azkiya. Membuat Azkiya semakin memekik ketakutan.

Azkiya sungguh tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Air matanya tiba-tiba meluncur. Lelaki itu yang melihat Azkiya menitikkan air mata– lantas menelan ludahnya berat. Hatinya terasa tidak enak sendiri karena telah berani melakukan hal yang kurang baik pada gadis berjilbab itu. Lantas ia menarik tangannya kembali dan duduk dalam posisi semula. Entah kenapa menatap mata gadis itu, seakan ia bisa mengetahui bahwa gadis itu tengah menyimpan kepiluan.

Azkiya mulai sedikit lega karena akhirnya lelaki itu sudah membenarkan posisinya semula. Walau di hatinya masih dibumbung rasa takut, setidaknya kekalutannya sudah sedikit berkurang. Tidak ada pilihan lain, Azkiya semakin merapatkan tubuhnya pada jendela. Ia tak mau melihat wajah lelaki yang misterius itu.

Hening. Tidak ada suara. Kecuali suara mesin kereta yang terus melaju dalam perjalan panjang ini. Kedua manusia itu kini telah lenyap dalam kebungkaman mulut mereka masing-masing. Lambat laun setelah insiden yang diperbuat oleh lelaki itu, membuat mereka sudah tak lagi berinteraksi.

Azkiya hanya sebatas menyimak pemandangan alam yang terbentang luas di luar sana. Sesekali menatap ladang persawahan dan sungai-sungai yang bermuara. Memberikan kesejukan akan panorama alam ini. Matanya lama-lama terasa pegal. Tangisan yang ia lakukan sejak tadi, ternyata menjadi pemicu dirinya mengantuk. Ia memejamkan matanya dengan pelan walau terkadang hatinya masih kacau.

Ya, akhirnya Azkiya tertidur juga.

* * *

“Tantangan demi tantangan bukan lagi menjadi dinding pembatas antara pejuang dan tujuannya. Dinding itu hanya menjadi membran tipis yang dapat dengan mudah dilaluinya, karena mimpi.”

*

Sore ini rasanya begitu nanar. Entah dari suhu tubuhku atau bahkan dari hatiku sendiri. Berkunjung dan hendak menetap di kota orang, memang membutuhkan suatu kemantapan hati. Memang kuakui, ini kali pertamanya aku menempuh perjalanan sendiri untuk menentukan hidupku selanjutnya. Semua serba sendiri. Terkadang, selalu kudapati bahwa diriku seperti orang linglung. Aku bingung, di manakah aku berada? Di Kota Metropolitan? Kota yang penuh tantangan dan amat keras? Di sinilah yang aku ketahui.

Tak seorang pun yang aku kenali di sini. dari sekian banyaknya orang yang aku jumpai, semua terlihat asing dalam hidupku. Termasuk seorang pria tadi yang sejak perjalanan awal duduk bersamaku.

Matahari kian merangkak ke barat. Waktu sudah menjelang senja. Sebentar lagi berganti malam. Pikiranku bingung lagi. Bagaimana mungkin aku akan menetap di kota orang sedangkan aku belum menemukan tempat tinggal? Mencari indekos atau kontrakan, tentu aku berpikir sampai berulang-ulang. Mengenai biaya hidup, tentunya juga membutuhkan dana yang banyak. Sedangkan aku hanya memegang beberapa uang saja yang kemarin Ayah berikan padaku.

Maafkan Azkiya, Ayah… uang yang kau amanahkan untuk biaya pesantren, justru Azkiya bawa kabur untuk biaya hidup Azkiya di sini.

Sejak tadi, aku berada di atas serambi masjid. Duduk seorang diri untuk menenangkan pikiran yang sangat kacau. Disinilah aku bisa beristirahat sejenak. Lagipula, tidak ada tempat lain yang tepat untuk menongkrong bagi seorang wanita di kota besar ini kecuali masjid. Lamat-lamat, matahari tinggal sejengkal menuju tempat persembunyiannya. Sebentar lagi akan digantikan dengan suasana yang petang. Disusul suara bedug dari masjid. Maghrib telah tiba.

Buru-buru aku masuk ke dalam. Pergi ke tempat wudhu bagian wanita. Dari segala macam perasaan yang sejak kemarin aku rasakan, kini semuanya luruh seketika saat aku membasuhnya dengan air wudhu. Rupanya, berwudhu memberikan sisi positif yang begitu dahsyat andai kita mampu menyadarinya.

Seusainya, aku menuju ke dalam untuk menunaikan sholat berjamaah. Kuhabiskan waktuku di masjid sampai pada sholat Isya’ disini. Masih ada keinginan kuat untuk bermurojaah sebentar. Siapa tahu, dengan adanya niat baik ini Tuhan mau menata hatiku kembali setelah kehancuran hati yang teramat kacau.

Belum genap lima menit, aku teringat akan keadaan diriku, keadaan hatiku, dan keadaan perasaanku. Pikiranku langsung terseret pada mereka yang mungkin kini tengah berpisah. Atau, jika mereka tengah bersama, mereka pasti sedang beradu dengan argumen-argumen mereka sendiri yang dianggapnya benar.

Rupanya, dengan bermuroja’ah pun, tidak mengurangi sedikitpun tentang berantakannya hatiku. Semakin berupaya untuk menghafal dan melancarkannya, semakin kuat pula pikiran itu terpatri hingga menjadikan luka yang begitu dalam. Tuhan… Jika sudah seperti ini, apa yang mesti aku lakukan? Ingin rasanya menjerit sekeras-kerasnya untuk sekadar melegakan hati. Tapi apakah pantas?

“Mbak…”

Aku terkejut saat ada seseorang yang tiba-tiba menepuk bahuku. Aku menoleh. Seorang perempuan tengah baya menatapku.

“Mbak pendatang di sini?” Dia bertanya padaku.

Aku tersenyum “Ah, iya…”

“Datang dari mana, Mbak? Apa mbak sedang merantau?”

“Dari Jawa Timur, Bu. Dan saya tidak merantau. Hanya saja… saya-” Kalimatku menggantung di udara. Aku berpikir sejenak untuk menentukan kalimat yang tepat. Sejujurnya aku sungguh bingung dengan kedatanganku kemari. “Mencari pengalaman.” Imbuhku sekenanya.

“Ealah… sama siapa?”

“Sendiri saja, Bu. Oiya, saya mau tanya, disini ada kontrakan atau indekos yang kosong untuk tempat tinggal? Kalau ada yang sewanya murah.” Aku jadi teringat hal itu.

Malam ini aku butuh tempat tinggal. Walau itu hanya untuk tidur saja. Setidaknya bisa memberikan keamanan untuk diriku.

“Ada. Tapi tempatnya jauh dari sini. Kalau malam-malam menuju tempat itu, kemungkinan sulit andai kamu tidak bawa kendaraan sendiri. Em… bagaimana kalau kamu tinggal sama saya dulu. Kebetulan saya sendiri di rumah.” Ujar ibu-ibu itu.

Tentu saja aku langsung bahagia. Disaat-saat aku tengah kebingungan mencari tempat tinggal, rupanya ada seorang yang berbaik hati ingin menolongku. Apakah sekarang Allah masih memberikan rasa iba kepadaku? Entahlah, jika Dia memang benar-benar sayang kepadaku, lantas kenapa Dia memberikan takdir buruk setelah aku memperjuangkan untuk mempertahankan Al-Kitabnya?

“Tapi apakah tidak merepotkan, Bu?”

“Ah, tidak. Malah saya senang karena ada teman di rumah.” Katanya seraya menepuk bahuku lagi dengan pelan. “Ya sudah, ayo kita ke rumahku.”

Aku mengikuti ibu-ibu itu ke rumahnya yang mungkin bertempat di sekitar pedalaman. Aku terus diajaknya melewati beberapa gang sempit yang ada di beberapa pemukiman rumah-rumah elit. Begitu setibanya, ibu itu berhenti persis di depan pintu rumahnya yang cukup sederhana.

Bukan terlalu sederhana. Akan tetapi rumah ini memiliki bangunan dan arsitektur yang cukup klasik. Semuanya tercipta dari bahan kayu yang susunannya rapi hingga menghasiļkan bangunan yang cukup unik dan menarik. Apalagi di setiap kusen-kusen dan keseluruhan pintu itu, terdapat ukiran-ukiran yang khas. Ah, rumah yang menarik dan klasik.

“Ayo, masuk… Maaf jika rumahnya sangat sederhana. Setidaknya rumah ini bisa dijadikan sebagai tempat berteduh dan bertahan hidup.” Katanya merendah hati.

“Rumahnya menarik, Bu. Saya suka.” Jawabku ramah seraya masuk ke dalam.

Ibu-ibu itu menyuruhku duduk di ruang tamu. Lantas pergi ke dalam. Aku sendirian di ruang ini. Kuamati setiap bentuk ruangan. Seperti awal yang pernah kukatakan, rumah ini memiliki gaya arsitektur yang klasik. Ada beberapa gambar lukisan dan anyaman kaligrafi di bagian dari dinding ruang ini. Termasuk juga sebuah foto berbingkai yang terpajang diantara beberapa lukisan itu.

Kuamati foto itu, adalah seorang gadis. Mungkinkah dia masih seusiaku atau mungkin di atas usiaku? Apakah dia anak dari pemilik rumah ini? Kudekati foto itu. Terdapat rentetan kalimah huruf di bawahnya.

RUMAISYA ADZIKIRA SYUFA MUKHOTIMAT BIL-GHOIB ANGKATAN KE 27 PONPES DARUL QUR’AN

Begitulah yang tertera. Rupanya dia adalah seorang Hafidzah.

“Sedang melihat foto?”

Aku terkejut mendengar suara ibu-ibu tersebut tiba-tiba hadir. “Ah, iya, Bu. Maaf, saya terlalu lancang, ya, Bu?”

“Tidak. Ayo diminum dulu…” Ucapnya seraya meletakkan dua gelas teh panas di atas meja. Satu gelas teh diarahkannya kepadaku.

“Duh, jadi merepotkan…”

Aku duduk kembali. Membuat posisi nyaman dihadapannya. Sesekali menyeruput teh panas hasil buatannya. Rasanya sangat nikmat. Sejak tadi siang aku belum makan ataupun minum. Mengingat diriku teramat bingung.

“Nama kamu siapa, Nak?” Tanyanya.

Aku meletakkan segelas teh panas yang sudah berkurang. “Saya Azkiya, Bu. Oiya, Foto itu anak Ibu?”

“Iya. Dia putri satu-satunya Ibu. Sekarang dia masih di pesantren. Alhamdulillah… di sana ia menjadi santri yang paling dekat dengan pengasuhnya. Dia sudah dianggap seperti putri sendiri. Sedikit tidak rela andai ia benar-benar diambil orang lain mengingat dia satu-satunya orang yang Ibu punya. Tapi demi kebaikannya, mungkin Ibu harus mengikhlaskannya. Lagipula bukankah hal yang paling membahagiakan andai kita bisa dekat dengan seorang guru besar? Apalagi beliau adalah seorang Kyai ternama dan berilmu.” Jelasnya panjang lebar. Aku terus memperhatikannya.

Aku terharu mendengarnya. Tentang cerita itu, entah kenapa aku langsung teringat sama Maz Zidan. Mas Zidan juga memiliki takdir yang sama. Sama-sama disukai oleh sang pengasuh pesantrennya.

“Dia seusia kamu. Namanya Maisya. Kebetulan dalam waktu dekat ini, bapak Kyai akan menjodohkan putranya dengan putriku. Rasanya Ibu sangat bahagia sekali mendengarnya. Ah, sebentar. Biar Ibu siapin makanan untuk kamu.” Ucapnya dan langsung pergi ke belakang.

* * *

Saat malam pukul 9, aku sudah merebah di atas ranjang milik putri Ibu Ranti. Pikiranku mulai mengangkasa. Teringat akan kisah orangtuaku yang amat menyakitkan. Kenapa semua ini harus terjadi setelah aku berhasil mewujudkan mimpi mereka?

Jujur, aku merasa kurang adil. Entah itu dari orang tua atau pun  dari Tuhan. Dimanakah keadilan? Apakah prinsip yang kutanamkan sejak dulu yang ingin menciptakan keluarga harmonis tidak ada maknanya sama sekali bagi mereka? Hatiku selalu beristigfar, meralati setiap persetan yang terkadang sering membuatku bersu’udzn akan kekuasaan Allah. Namun selalu saja pikiranku beradu dengan hatiku. Memberikan sebuah perlawanan keras hingga kepalaku berdenyut sakit.
Entahlah, inikah cobaanku setelah selesai mengkhatamkan Al-kitabNya?

“Azkiya…”

Suara Bu Ranti terdengar dari arah luar kamar. Aku tahu Bu Ranti baru saja membuka pintu kamar. Buru-buru ku seka air mata sebelum ia tahu jika aku sedari tadi menangis.

“Iya, Bu…?”

Bu Ranti mendekatiku. “Kamu belum tidur?”

“Belum. Ada apa?”

“Maaf, malam ini Maisya pulang. Jadi untuk sekarang kalian tidurnya bersama. Soalnya kamar sebelah masih Ibu gunakan untuk menata barang-barang. Jadi kalian berbagi di sini. Tidak apa-apa, kan?” Ungkapnya lembut.

Aku malah tidak enak sendiri. “Oh, iya, Bu… lagipula ini kan kamarnya Mbak Maisya. Jadi mungkin kehadiranku merepotkan. Hehe…”

“Sudah, tidak apa-apa. Ibu panggilkan Maisya dulu. Biar dia segera istirahat.”

Bu Ranti keluar kamar. Memanggil Mbak Maisya yang katanya pulang di malam ini. Tidak lama, Bu Ranti masuk bersama seorang gadis yang mungkin itulah Mbak Maisya. Terlihat anggun dan cantik. Tatapan matanya begitu sayu. Ia melempar senyum padaku.

Ya Allah… aku saja yang berstatus menjadi seorang perempuan sedikit tergiur akan sosok dirinya, apalagi sosok laki-laki yang melihatnya?

“Maisya, ini Azkiya. Tamu kita. Dia datang dari Jawa Timur. Dia belum menemukan tempat tinggal di Jakarta. Makanya Ibu bawa dia kemari.” Ucap Bu Ranti memperkenalkan.

Mbak Maisya mengulurkan tangannya. Ia tersenyum hangat padaku. Ku lihat, ada gigi gingsulnya dibalik senyumnya. Ah, tahukah kalian, aku paling menyukai seseorang yang bergigi gingsul satu di pinggir.

Kami berjabatan akhirnya.

“Baiklah, kalau begitu Ibu tinggal dulu. Semoga kalian mudah akrab. Selamat malam…” Bu Ranti kini pergi meninggalkan kami. Menyisakan aku dan Mbak Maisya.

Canggung. Tentu saja. Aku baru saja mengenalnya. Tidak mudah bagiku untuk mengajaknya bercanda atau membahas sesuatu dalam kurun waktu yang tiba-tiba ini. Tentu ada tahap-tahap memulainya.

“Mbaak Maisya ini Hafidzah, kan?” Tanyaku saat melihat ia tengah meletakkan barang-barangnya di sudut ruangan.

Mbak Maisya menoleh. Sekilas tersenyum lalu membuka tas yang ia bawa. Ia mengeluarkan sebuah tafsir Qur’an, diletakkannya di atas meja. Hatiku mendadak bergetar melihatnya. Ya Allah, apakah aku mampu menjaganya sedangkan hatiku tengah kacau dan berantakan seperti ini?

“Sedang belajar, Mbak. Namanya juga statusku masih seorang santri. Masih mengabdi di pesantren guruku.” Jawabnya lembut. Lihatlah! Dari segi bicaranya saja ia seakan menyimpan sejuta ke-takdzim-an terhadap apa yang ia dapatkan selama belajarnya. Ia seperti begitu mencintai Al-Qur’an.

“Mbak keren. Aku ingin jadi seperti Mbak Maisya.”

Mbak Maisya berjalan mendekatiku, duduk di sebelahku, di tepi ranjang.

“Kenapa harus ingin menjadi orang lain? Bukankah menjadi diri sendiri itu lebih baik?” Ujarnya sesekali menepuk lenganku pelan.

Aku ķikuk. Merasa diri ini begitu bodoh ketika dihadapkan dengan dirinya. “Hehe… masalahnya aku ingin menjadi diri yang lebih baik, Mbak. Mbak Maisya seakan menjadi contoh.”

“Kamu sebenarnya bisa tanpa harus mencontoh orang lain. Kuatkan keyakinanmu. Insya Allah, semuanya akan mudah didapat.” Ia sedikit bergeser. Mengalihkan posisinya dengan merebah di atas ranjangnya. “Ayo, tiduran dulu. Aku capek sejak tadi duduk melulu.”

Aku menyamai posisinya. Merebah disisinya. “Mbak, aku mau tanya, boleh?”

“Apa?”

“Mbak ini kan Hafidzah, apakah yang Mbak dapatkan, Mbak merasakan hidupnya lebih tenang, tentram, dan terarah?”

Sesaat, ia mengosongkan pandangannya. Tak langsung menjawab. Namun untuk detik selanjutnya, ia mulai berkata. “Ya, memang. Hidup itu kan penuh dengan perasaan, penuh dengan warna, dan penuh dengan tantangan. Kalau tidak ada semua itu, rasanya hidup terasa mati. Menghafal Al Qur’an tentu bukan perkara yang mudah. Banyak hal pahit yang kerap dilalui oleh para pejuang yang tengah menghafalnya. Tinggal bagaimana cara kita menyikapinya. Kalau semua dilakukan secara lillah dan ikhlas, insya Allah semua itu akan indah dan terarah.” Jelasnya.

Ikhlas. Satu kata yang kini terasa menghantam ulu hatiku. Entahlah, mendengar kata itu seolah diriku langsung terlempar ke dalam sebuah kubangan penuh nista. Selama ini yang kulalui hanya karena suatu hal, karena orang tua. Andai semuanya bukan karena orang tua, mana mungkin aku bisa khatam Alquran dalam hafalanku selama 2 tahun? Jika semua orang melakukannya karena ikhlas dan karena Allah, maka untuk diriku tidak ada diantara keduanya. Semuanya murni karena orang tua.

Dear Allah, bagaimana caranya agar aku bisa seperti mereka semua?

“Kamu santri dari pondok mana?” Tanyanya tiba-tiba. Tahu dari mana dia kalau aku seorang santri?

“Eh, santri?” Aku malah bingung sendiri. “Aku bukan santri, Mbak.” Dustaku seraya tersenyum getir.

“Dari raut wajahmu. Kau kelihatan seorang pemelihara Alqur’an.”

Jlep!

Hatiku, rasanya seperti ada yang membusurnya. Aku kaget setengah mati. Entah hal apa pula yang tiba-tiba membuatku gemetar. ‘Pemelihara Alqur’an‘? Ya Rabb… apakah aku mampu? Sungguh, sedangkan untuk sekarang, 30 juz itu pelan-pelan memudar dengan sendirinya.

“Entahlah, Mbak. Aku sendiri bingung. Bahkan setiap kali aku ingin memperjuangkannya, justru ayat demi ayat seakan menghilang.” Aku tertegun saat itu. Air mata rasanya ingin menetes.

Ku rasakan lenganku disentuh olehnya. Ia mengusapnya seakan memberiku kekuatan. “Kamu sedang mempunyai masalah?”

Aku menatapnya. “Ayah dan ibuku berpisah, Mbak. Mereka bercerai saat aku sudah berhasil mewujudkan mimpi mereka. Aku sudah mengkhatamkan hafalanku. Tapi mereka malah berpisah.” Kuakku yang kini sudah meneteskan air mata. Mengingatnya, terkadang aku sangat merindukan mereka. Tetapi di satu sisi, aku sungguh kecewa.

“Seharusnya kau bersyukur dengan itu, Azkiya. Mereka berpisah tapi suatu saat mereka pasti akan bertemu. Masih ada kesempatan pula bagi mereka bersatu lagi andai Allah menghendaki. Lihatlah, di luar sana banyak para pejuang Alqur’an yang masih sampai di pertengahan atau hampir selesai malah kehilangan orang tuanya untuk selamanya.

“Kau tahu, dulu saat di detik-detik panggilan peserta mukhotimat pada acara wisuda, aku malah dikabarkan ayahku meninggal. Ia kecelakaan saat hendak menghadiri acara wisudaku. Saat itu aku ambruk di tempat. Aku sempat bertanya, cobaan macam apa ini yang ku alami sampai semua itu seperti mimpi terburuk di sepanjang hidupku? Namun saat itu Ibu selalu menguatkanku. Memberiku motivasi agar aku terus kuat dan ikhlas. Segala apa pun yang dimiliki di dunia ini pasti akan pergi dan diambil oleh Sang Maha Pemilik sejati. Yaitu Allah Swt.” Ceritanya penuh pilu.

Aku yang sedari tadi mendengarnya, terharu. Rupanya, Mbak Maisya mengalami ujian yang lebih berat dan tragis dari pada aku. Lalu kenapa dengan aku yang hanya diuji dengan hal yang belum tentu kehilangan, aku seolah meragukan kekuasaan Allah? Merasa tidak adil dan merasa bahwa ini adalah hal terburuk?

Ya Allah… apakah hatiku serapuh dan seburuk ini?

“Dengar, Azkiya, semua kesulitan yang kita alami, Insya Allah kita akan melaluinya dengan ringan asalkan kita mau ikhlas.”

Aku menatapnya lagi. “Itu dia, Mbak, masalahnya. Untuk menuju ikhlas, aku sungguh belum mampu. Begitu sulit rasanya untuk mengikhlaskan semuanya. Pantas saja semua hafalanku terasa gelap dan berantakan.”

“Ya, ikhlas memang hal tersulit untuk kita raih. Tapi asalkan ada keniatan tinggi untuk mencobanya, Insya Allah pasti bisa. Karena semua itu butuh proses.”

Ya, mungkin bagi Mbak Maisya itu hal yang mudah. Namun untuk diriku, tentu sebuah hal berat dan tersulit. Jika memang nanti Allah masih memberiku kesempatan untuk mencobanya, mungkin aku akan melakukannya. Entah itu nanti, esok, atau bahkan esoknya lagi dan lagi.

 Allah, kapan aku bisa seperti dia? Yang selalu bersabar dan ikhlas hingga semua hal indah mampu ia gapai?

“boleh-boleh saja manusia meemikiki rencana sedemikian rupa. Namun percayalah, skenario Allah itu unik. Dan  yang pasti, ketentuan Allah itulah yang paling menarik dan.”

*

Gumpalan awan tampak hitam memenuhi luasnya langit. Angin berhembus cukup keras, membawa awan semakin berarak datang, bergelayut. Mendung mulai membungkus kota. Tidak lama butiran bening berhamburan lembut, turun membasahi bumi.

Di luar, sepanjang jalanan sudah basah. Hiruk-pikuk kota semakin kentara, ramai kendaraan, sahut-menyahut klakson seolah tidak sabar untuk melajukan secepat mungkin perjalanannya.

Guyuran air hujan membuatku terjebak disini. Di sebuah pangkalan ojek yang kini tengah dijadikan sebagai tempat menongkrong para ojek. Semuanya lelaki di sini. Tadi pagi aku memang diajak jalan-jalan oleh Mbak Maisya. Namun kami akhirnya berpisah saat Mbak Maisya bertemu dengan temannya. Sedangankan aku malah meminta izin untuk pergi ke wartel, menghubungi keadaan rumah, hingga aku terjebak hujan di pertengahan jalan. Terpaksa harus berlindung di tempat ini.

“Neng, kenapa sendirian?” Seorang laki-laki berjaket hitam bersuara. Ia menatapku. Aku hanya diam seraya menahan perasaanku yang tidak enak.

“Mending ke sini saja, Neng, biar anget. Kalau di situ kedinginan.” Sahut laki-laki yang lain. Aku semakin risih.

Aku masih diam, mengabaikan. Meski semakin lama aku tak tahan. Sebelum terlanjur dengan hal yang tidak-tidak, lebih baik pergi dari sini. Apa salahnya jika  berantisipasi lebih dahulu? Bukankah lebih baik sedia payung sebelum hujan? Namun untuk sekarang, kenyataannya sudah hujan. Dan apakah aku harus menerjangnya tanpa sebuah payung?

Akhirnya kuambil nyali. Mengangkat kaki dan menginjak aspal jalanan yang sudah digenangi oleh air hujan. Aku berlari menuju wartel berada. Namun, ada hal yang membuatku merasa dongkol seketika. Sebuah mobil melintas hingga mengakibatkan kubangan air yang cukup banyak itu muncrat ke arahku.

Astaghfirullah, dosa apakah aku hari ini sampai harus mengalami hal buruk ini?

“Woy… apa kamu tidak punya mata?!” Seruku memaki. Aku sungguh marah. Bagaimana tidak? Lihatlah! Bajuku jadi kotor. Basah memang sudah aku alami. Namun untuk yang ini, sudah basah plus kotor. Astaghfirullah…

Ku lihat, mobil itu berhenti. Apakah dia mendengar makianku? Seketika aku dilanda panik. Seorang pria bersepatu hitam keluar dari mobil seraya mengedarkan sebuah payung. Laki-laki paruh baya berkostum tuxedo itu kini berjalan mendekat ke arahku.

Oh Allah, apakah ia akan memarahiku?

“Ya Tuhan, Dik… maaf, saya tidak sengaja.” Ucapnya saat ia melihat pakaianku yang basah dan kotor. Ia juga menyayangiku.

“Ah, iya. Tidak apa-apa kok, Pak.” Aku tidak enak sendiri.

“Kamu kenapa hujan-hujanan? Ayo ikut saya saja. Mau ke mana, saya antarkan.”

“Eh, tidak usah. Takutnya merepotkan.”

“Tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku. Dari pada kamu hujan-hujanan?” Ia seolah memaksa. Dan dengan sangat terpaksa, akhirnya aku menuruti permintaannya. Lagi pula, mungkin ini adalah rezeki.

“Tadi kenapa hujan-hujanan, Dik?” Tanyanya setelah kami berada di dalam mobil, laki-laki itu memfokuskan kemudinya.

“Mau ke wartel, Pak. Tapi malah kehujanan di tengah jalan.”

“Loh, mau menelepon? Kenapa tidak pakai ponsel saja? Apa kamu tidak membawa ponsel?”

Aku menggeleng. “Saya tidak bawa ponsel, Pak.”

“Kalau kau mau pinjam milik saya, juga tidak apa-apa, Dik. Dari pada kau susah-susah ke wartel.” Tawarnya berbaik hati. Membuatku merasa tidak enak sendiri.

“Tidak usah, Pak. Takut merepotkan.”

“Tidak apa-apa. Ini, coba kau hubungi.” Ia menyodorkan ponselnya kepadaku. Mau tidak mau akupun menerimanya.

Aku mulai mengetik beberapa digit nomor untuk menghubungi seseorang yang kutuju. Ibuku. Karena sungguh, aku begitu merindukannya. Namun entahlah, ketika nomor itu selesai ku ketik, aku hanya sebatas menatapnya. Hatiku terasa mengerang tiba-tiba. Teringat akan keputusan mereka, membuatku ingin menangis. Rasa sakit hati masih akan tetap ada. Aku mengurungkan niat. Tidak ingin menghubungi Ibu atau Ayah sekalipun.

Ku hapus seluruh nomor itu. Aku kembali mengetik beberapa digit nomor yang berbeda. Nomor Mas Zidan lah yang telah kuketik. Aku langsung menghubunginya.

Dentuman dari saluran ini sudah terhubung. Aku menunggu Mas Zidan mengangkatnya.

Assalamu’alaikum…” suara itu muncul dari seberang sana.

“Wa’alaikumsalam. Ini benar Mas Zidan, kan?” Tanyaku gamang.

Ya, dengan siapa, maaf…”

Aku diam sesaat. Rasanya begitu berat untuk mengakuinya. “Azkiya…”

Sunyi!

Tidak ada suara!

Baru beberapa detik kemudian, terdengar suaranya. “Azkiya…? Benarkah?” Nadanya terdengar histeris. Aku tahu, ia pasti mencariku dan mengkhawatirkanku.

Aku mengangguk. “Na’am, Mas Zidan. Kaifa haluk?

Astaghfirullah, Dik Azkiya… apa yang kau lakukan? Di mana kamu sekarang?”

 “Tak perlu Mas Zidan tahu di mana Azkiya sekarang. Lagi pula Mas Zidan sudah baca suratnya, kan? Maaf jika keputusan Azkiya membuat Mas Zidan pusing.”

Dengar, Dik Azkiya, apa pun itu keputusan kamu, aku akan menghargai. Tapi bukan dengan cara seperti ini kamu mengambil tindakan. Kamu tahu, sekarang aku ada di Jatim? Aku datang ke rumahmu untuk mencarimu.”

Aku terkejut mendengar kalimat terakhirnya. “Mas Zidan di rumah? Apa Mas Zidan bertemu Ayah sama Ibu?” Tanyaku antusias. Rasanya aku begitu ingin tahu mengenai kabar mereka. Namun di satu sisi aku takut. Takut bila kenyataannya tidak sesuai yang kuharapkan. “Bagaimana dengan keadaan mereka?” Lanjutku seakan menuntut.

Hening!

Tidak ada suara selama beberapa detik. Baru detik selanjutnya, aku seperti mendengar helaan napas Mas Zidan. “Aku tidak ketemu sama Ayah kamu. Beliau tidak ada di rumah. Aku hanya ketemu sama ibu kamu. Beliau menanyakan kabarmu. Aku bilang kalau kamu kabur dari pesantren.”

Jlep!

Hatiku seperti dihantam oleh sesuatu. Aku sungguh takut. Ibu pasti marah ketika mendengarnya. Ia pasti mencemaskan aku.

“Dan Ibu marah?”

“Tidak. Tapi ibumu kecewa. Beliau menangis. Bahkan beliau malah menyalahkan diri sendiri. Beliau memintaku untuk mencarimu agar kamu kembali.”

“Kau tau, Dik Azkiya, ibumu sampai sekarang masih menangis. Apa kamu benar-benar tidak ingin kembali? Sedangkan ibumu masih menunggumu.”

Entahlah, sekarang hatiku benar-benar hancur. Lebur sudah perasaanku. Mendengar Ibu menangis, adalah sebuah kehancuran bagiku. Aku sungguh mencintainya dan menyayanginya. Namu oh, Tuhan… kenapa ia tega melakukan semua ini? Bukankah ia sendiri yang telah memilih untuk berpisah denganku?

Aku tidak sanggup lagi untuk berkata. Aku putuskan untuk berdiam. Berlanjut menekan tombol merah. Memutuskan saluran kami secara sepihak. Karena sungguh, aku hanya sedang tidak ingin menambah perasaanku dengan sebuah kehàncuran lantaran kabar ibuku atau pun ayahku. Entahlah, apakah hal ini akan terus berlanjut?

“Ada kabar buruk?” Pertanyaan Om itu membuatku tersadar. Aku langsung menyeka air mata ketika melihat ia memperhatikanku.

“Tidak ada. Hanya masalah kecil. Ini ponselnya. Terima kasih, Pak.” Ucapku seraya menyerahkan ponselnya.

Sejujurnya, aku merasa malu. Kenapa aku menangis dengan mudahnya sedangkan disini ada seseorang yang tidak aku kenali?

Jarak beberapa saat, ada suara nada dering dari ponselnya. Om-om itu buru-buru mengangkatnya. Seakan ada suatu kepentingan yang harus ia bicarakan sekarang.

Percakapan usai, Om-om itu menatapku. “Kalau misalkan kamu sekarang ikut saya bagaimana? Saya diajak atasan saya untuk makan siang. Sekalian kamu juga. Hitung-hitung sebagai permintaan maaf saya.”

Aku mengernyit. “Eh, tidak usah, Pak. Sungguh, nanti kehadiranku justru mengganggu kalian. Ini sudah lebih dari cukup. Bapak sudah meminjamkan saya ponsel buat menelepon.” Sanggahku.

“Tak apa. Sekalian buat silaturrahim. Oh iya. Saya mau kamu beli baju buat ganti baju kamu yang basah. Baru setelah itu kita berangkat ke tempat tujuan saya. Ngomong-ngomong siapa namamu?”

“Azkiya, Om,”

***

Setibanya, kami masuk ke sebuah restoran. Mencari meja pelanggan. Tetapi ada sesuatu yang membuatku terhenyak mendadak. Tubuhku membeku saat melihat sosok wajah itu. Wajah yang pernah kutemui saat ia duduk di sebelahku. Di jok kereta saat perjalanan menuju kota Jakarta. Dia seorang pria penculik yang misterius. Oh, Allah… benarkah apa tengah kulihat sekarang?

Ironisnya, wajah itu terlihat menebarkan aura kewibawaan. Ia mengenakan kostum tuksedo lengkap dengan dasinya. Berpenampilan rapi seakan ia adalah makhluk terpandang dan terhormat. Apakah benar pria ini adalah pria yang pernah ku jumpai waktu di kereta itu? Hati dan pikiranku terus berkontradiksi. Mencoba mencari sumber kebenaran dari apa yang ku lihat saat ini.

Ia menatapku dalam diamnya. Mungkin ia juga bertanya-tanya mengenai siapa diriku andai ia memanglah orang yang pernah ku jumpai waktu itu.

“Maaf, Pak, saya ajak seseorang untuk makan siang kita. Soalnya saya tidak tega membiarkan ia hujan-hujanan sendirian. Namanya Azkiya.” Lapor Om-om itu di hadapan lelaki misterius di hadapannya.

Lelaki itu hanya mengangguk, seperti tak mempermasalahkan.

“Azkiya, ayo duduk!” Ajak Om itu. Aku menurut.

“Mau pesan apa, Pak Huda? Biar saya panggilkan pelayan.”

“Ikut Bapak saja.”

Tidak lama seorang pelayan datang seraya membawa papan menu pesanan. Ia menunjukkan pada lelaki misterius itu. Baru setelah lelaki misterius itu selesai memesan, pelayan itu pergi untuk melaksanakan tugasnya.

Di meja ini, terdapat tiga orang. Aku, Pak Huda dan lelaki mistetius itu. Entah siapa namanya aku tak tahu. Yang jelas perasaanku masih menyimpan sejuta penasaran mengenai dirinya. Terdapat perbincangan-perbincangan sedikit serius diantara Pak Huda dan laki-laki itu. Sedangkan aku hanya diam, tidak tahu harus melakukan apa diantara kebersamaan mereka. Aku sama-sama tidak mengenali siapa mereka.

“Azkiya, perkenalkan. Dia Pak Syihab. Atasan saya. Saya pengacaranya. Pak Syihab ini seorang ketua jaksa di kantor Pengadilan Hukum Islam disini.” Jelasnya. Membuatku terkejut setengah mati.

Ya Tuhan, benarkah dia seorang ketua jaksa?

Syihab! Aku mencoba mengingat-ingat namanya.

Tidak lama, seorang pelayan datang seraya membawa tiga porsi makanan ke meja kami. Ia meletakkannya diantara masing-masing kami. “Silakan dinikmati…” Ucapnya ramah. Lalu pergi ke dalam.

Syihab dan Pak Huda langsung meraih makanannya. Mereka makan dengan sikap yang sopan. Sedangkan aku masih dilanda rasa penasaran mengenai laki-laki ini.

“Oh iya, Pak Syihab, Azkiya ini adalah gadis yang baik. Setahuku dari segi penampilannya saja sudah meyakinkan.” Pak Huda kenapa malah melibatkan aku ke dalam pembicaraan mereka?

Pria itu hanya senyum tipis. Seakan penuh paksa. Tak menjawab apapun lagi untuk menanggapi apa yang Pak Huda katakan. Dingin sekali. Biarlah! Toh apa perduliku. Aku tak mengharapkan apa pun dari laki-laki misterius itu. Dia lelaki yang sangat angkuh.

Kami sama-sama menikmati hidangan makan siang ini. Walau perasaanku masih membuncah tidak nyaman, namun harus ku tahan demi menghargai kebaikan Pak Huda. Hatiku sejak tadi merasa hal yang tidak enak. Berlebih lagi saat melihat sikap laki-laki misterius bernama Syihab itu, serasa kurang menyenangkan. Apakah ia tak suka dengan kehadiranku?

“Maaf, Pak Syihab. Saya izin ke toilet sebentar.” Pak Huda tiba-tiba berdiri. Setelah mendapat anggukan dari atasannya, lantas pergi. Menyisakan aku di sini bersama pria menyebalkan itu.

Hatiku sejak tadi tidak nyaman ditempatkan di ruang yang sama dengan pria ini. Keringat panas dingin  melumuri tubuhku. Terjadi suasana yang begitu hening. Tidak ada suara kecuali dentingan dari sendok makan dan piring yang bergesekan. Aku sungguh bingung dan tak tahu harus melakukan apa.

Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel seseorang. Ponsel yang ada di atas meja ini. Mungkin itu adalah ponselnya. Pria itu segera mengangkatnya, lalu pergi dari tempat ini.

Aku sendirian di sini. Entah kenapa mataku sejak tadi mengekori kepergian pria itu. Aku sungguh penasaran dengannya. Ingin sekali menanyakan tentang siapa pria itu. Apakah dia adalah pria yang sama? Pria yang waktu itu ku jumpai di gerbong kereta?

Aku bangkit dari posisi. Berjalan mengikuti kemana ia pergi. Entah dapat keberanian dari mana sampai aku harus mengikutinya dan mengintainya dari jarak yang agak jauh. Butuh beberapa menit untuk menunggunya selesai berbicara. Barulah saat ia selesai, aku memutuskan  mendekatinya.

Ia kaget saat membalikkan badan dan melihatku sudah ada di hadapannya.

“Kamu…!” Ucapnya kaget. Ia mundur selangkah untuk mengambil jarak.

“Apa kamu adalah pria yang ada di kereta itu? Pria yang pernah duduk satu jok denganku? Dan pria yang mengaku sebagai penculik?” Tanyaku retoris. Mungkin ini terlalu lancang. Namun sungguh, aku begitu penasaran dengannya.

Dia berdiam sejenak. Hanya menatapku penuh was-was. “Maaf, mungkin kamu salah orang.”

“Tidak. Kamu adalah dia. Ngaku saja kalau kamu adalah preman dan penculik itu..!” Desakku menuntut.

“Tidak perlu aku memublikasikan tentang siapa dan statusku. Apa terlalu penting bagimu sampai kamu mendesakku seperti itu?” Kilahnya. Aku terperangah mendengarnya. “Maaf, aku harus kembali. Mungkin Pak Huda sudah menungguku.” Lanjutnya dan langsung berpaling. Ia pergi dan masuk ke dalam.

Perasaanku sungguh dongkol. Ingin sekali aku marah dan memakinya habis-habisan. Tanganku mengepal kuat. Andai ia masih di hadapanku, mungkin aku sudah menonjoknya.

“Aku yakin kalau kamu adalah laki-laki itu…!” Teriakku yang sudah meletup-letupkan emosi. Tidak perduli dengan keadaan sekitar. Mau seluruh orang mendengar suaraku, tak peduli. Sebab sesungguhnya aku bukanlah tipe perempuan yang bisa menyimpan uneg-uneg. Aku juga bukan perempuan yang anggun dan lembut yang selalu bersikap ramah dan sopan. Inilah aku.

Kulihat, ia berhenti. Terdiam sejenak lalu menoleh ke arahku. “Terimakasih karena sudah memahami dan meyakiniku.” Tukasnya segera pergi. Ia masuk ke dalam. Sedangkan aku disini masih ternganga. Mendengar jawabannya membuat kepalaku pening. Apa maksudnya? Dengan kata ‘Memahami dan meyakini’? Apakah dua kata itu mengandung makna bahwa pernyataanku dengan menunjuknya bahwa ia adalah laki-laki itu- suatu kebenaran?

* * *

Keesokannya aku sudah sibuk membantu kegiatan Ibu Ranti di rumah ini. menata baju-baju hasil jahitannya di etalase. Namun, saat panggilan Mbak Maisya berseru membuatku harus meninggalkan pekerjaan. Aku berlari menuju kamarnya.

Terlihat Mbak Maisya tengah menata sesuatu di dalam tasnya. “Azkiya kemari…”

Aku mendekatinya setelah menutup pintu. “Mbak Maisya mau ke mana?”

Ia masih sibuk memasukkan barang-barangnya. “Besok aku mau berangkat ke pesantren. Sekalian kamu ikut ya?”

Aku tersentak mendengarnya. “Aku? Ikut, Mbak?” Disusul ia mengangguk mantap menatapku. “Mau apa aku di sana?”

“Seorang santri kalau di pondok biasanya ngapain?” Ia malah balik tanya. Aku berdesis. “Sekalian aku mau nunjukin pondokku ke kamu. Barangkali nanti kamu minat di sana. Sayang jika hafalanmu harus berhenti di sini. Kamu harus berkumpul lagi sama para pejuang, Azkiya. Biar hafalanmu tidak mudah luntur.”

“Tapi, Mbak… aku…”

“Sudah, besok kamu pokoknya ikut. Menginap 3-4 hari dulu. Semoga saja hatimu terketuk untuk betah di sana.”

Aku diam sejenak. Jika sudah berkaitan dengan Al Quran rasanya hatiku selalu hancur dan berujung membuatku terpuruk. Aku hanya tidak mau hal yang lebih buruk lagi akan menimpaku andai aku mencoba untuk memperjuangkannya. Sebab bagiku semakin aku memperjuangkan Al Qur’an, semakin mudah pula hidupku hancur.

“Aku akan ikut. Tapi paling tidak aku akan menginap sampai 3 atau 4 hari saja, Mbak, setelah itu aku ke sini lagi mau membantu ibu Ranti.” Cetusku bulat.

“Oiya, Mbak, sekalian aku mau ditunjukin bagaimana bentuk rupa si Gus yang Mbak sukai. Aku penasaran. Siapa memang namanya?” Aku ingat semalam Mbak Maisya bercerita tentang kisah asmaranya dengan seorang Gusnya sendiri.

“Namanya Gus Baihaqi, tapi sekarang ia masih pergi untuk tugasnya. Lagian kenapa kamu mendadak antusias dan penasaran seperti ini?”

penasaran? Benarkah Aku penasaran? Jika ku ingat-ingat kata penasaran selalu mengingatkan aku dengan pria itu. Pria yang sempat mengaku penculik dan kriminalis sedangkan dirinya adalah seorang ketua di Pengadilan Agama. Bahkan ketika ku tahu siapa dia sebenarnya dia mendadak mengubah sifatnya 180° berbeda. Dia pria yang unik. Entah kenapa sampai saat ini aku masih dilanda penasaran olehnya.

“Bukan, Mbak, aku hanya sedang penasaran dengan seseorang yang belum lama aku jumpai”

Mbak Maisya tiba-tiba menyenggol lenganku. “Biasanya rasa penasaran itu akan menuntun pada sebuah perasaan khusus. Rasa ingin tahu yang begitu besar ketika belum menemukan sumber kenyataan yang jelas, maka akan terus mengejarnya sampai rasa penasaran itu lenyap. Dan ketika sudah tahu, pelan-pelan hatinya akan selalu terngiang dengan sendirinya karena sudah terlalu biasa memikirkannya.” Jelasnya panjang lebar.

Aku yang di sisi-nya hanya terperangah. Belum bisa menerima sepenuhnya dengan definisi itu. Pun kalau memang benar, lalu apakah aku akan menyimpan perasaan khusus dengan pria itu?

“Tunggu! Yang dimaksud perasaan khusus itu– apakah semacam jatuh hati?”

Mbak Maisya mengedikkan alisnya, tersenyum seakan mengisyaratkan bahwa ia setuju dan sepakat dengan ucapanku “Ya, jatuh hati. Cinta juga bisa…”

Aku menelan salivaku berat mendengarnya. Bagaimana mungkin Mbak Maisya akan mengatakan demikian? Hanya tidak bisa membayangkan saja kalau nantinya aku jatuh hati pada pria yang bernama Syihab.

“Dan memang, sesuatu yang paling sulit untuk diraih dalam hidup ini adalah ikhlas.”

*

Sesuai rencana kemarin, hari ini aku dan Mbak Maisya benar-benar berangkat ke pesantren. Membawa sedikit bekal dan segera menaiki angkutan umum.

Ya, sesuai niat awal, aku ke pesantren Mbak Maisya. Hanya ingin sowan dengan pengasuhnya sekaligus melihat bagaimana metode yang digunakan dalam pembelajarannya. Siapa tahu dengan niat ini aku bisa menemukan penerang untuk hidupku bersama Al-quran. Biar bagaimanapun rasa sakit hatiku terhadap Al-quran, tapi aku juga ingin berjuang untuk mendapatkan cahaya dalam kegelapan yang kualami sekarang. Namun entahlah, apakah aku bisa?

Untuk sekarang lah, aku bersama Mbak Maisya berada di dalam bus. Sebuah bus kota yang akan mengantarkan kami ke tujuan. Duduk bersandingan seraya menikmati perjalanan ini. Entah kenapa hal yang kualami sekarang mengingatkan perjalananku waktu itu ketika di kereta. Yang mana, aku duduk bersama seorang pria berpenampilan seperti preman dan mengaku menjadi penculik. Bahkan ironisnya, ia akan menculikku andai aku akan melaporkannya pada polisi.

Mengingatnya, aku tersenyum sendiri. Berkesan begitu konyol bila rupanya pria itu adalah seorang Ketua Jaksa. Tidak habis pikir saja, kenapa ia berpenampilan dan berlagak seperti kriminalis? Sungguh, aku benar-benar tidak tahu apa motifnya. Pria itu aneh. Pria itu unik. Rasanya aku begitu ingin tahu bagaimana kepribadiannya. Berlebih lagi saat ia menampakkan sikap dinginnya saat aku berhasil bertemu dengannya lagi. Dan untuk selanjutnya, apakah aku bisa bertemu dengannya lagi?

“Azkiya, nanti kalau sudah sampai, aku mau ajak kamu ke toko kitab dulu sebelum sampai ke pesantren. Ada kitab yang ingin aku beli.” Kata Mbak Maisya disisiku. Aku mengangguk setuju.

Perjalanan selama kurang lebih 1 jam itu kini berakhir. Aku dan Mbak Maisya telah sampai di sebuah jalanan yang entah di mana aku tidak tahu. Lalu aku diajak masuk ke toko yang Mbak Maisya maksud. Namun aku menolak. Aku memutuskan untuk tetap di luar.

Seraya menunggu Mbak Maisya memilih-milih kitab di dalam, aku mencari angin di sekitar yang bisa memberi kesejukan sedikit. Namun tempat ini sepertinya mustahil untuk mendapatkannya. Terlalu banyak kendaraan yang berlalu-lalang menimbulkan banyaknya polusi. Aku mendadak teringat Mas Zidan. Apakah ia masih mencariku? Dulu, padahal sering sekali ia membantuku, menjagaku dan mengurusku. Bukan hanya dulu, bahkan sampai sekarang pun ia masih melakukan semua sikap itu. Dengan usianya yang terpaut 5 tahun lebih tua dariku, kerap sekali aku beranggapan bahwa semua itu ia lakukan karena menganggapku sebagai adik.

Dulu, dia pernah mengatakan kepadaku bahwa ia menganggapku sebagai adiknya. Begitulah jawabannya ketika aku sempat menanyakan tentang keintensifan sikapnya padaku. Saat itu, jujur saja aku merasa patah hati. Aku memang mempunyai rasa dengannya. Namun setelah adanya jawaban itu, hatiku hancur seketika. Aku memutuskan untuk menghilangkan perasaan itu dan menyamai dengan perasaannya. Yaitu,  menganggapnya sebagai kakak. Ya, cukup itu.

Aku menepis bayangan masa lalu itu. Kuedarkan kepala untuk sekedar memandangi fenomena yang terjadi di sekitar. Semua orang terlihat sibuk dengan sendirinya. Aktivitas-aktivitasnya begitu mengepung mereka. Semua orang terlihat sibuk kecuali aku yang hanya duduk diam menanti seseorang yang masih ada di dalam toko itu.

Tanpa sengaja, mataku melihat seseorang yang tidak asing. Pria itu tengah berdiri seraya berbicara sesuatu kepada seseorang. Tampak begitu serius sekali. Aku memperhatikan pria itu. Pria yang akhir-akhir ini selalu membuatku merasa penasaran.   Namun tiba-tiba…

Bruk…!

Aku tertabrak oleh seseorang. Membuatku nyaris saja jatuh. Sebelah bahuku rasanya sakit.

“Eh, Mbak, maafkan saya… saya tidak sengaja.” Ucap seorang pria kepadaku. Lelaki itu tengah membawa beberapa kitab-kitab yang mungkin akan dijual di toko ini.

Aku meringis kesakitan seraya memegangi sebelah bahuku “Iya. Tidak apa-apa, Mas.”

Lelaki itu kembali masuk ke dalam toko. Dan aku kembali tersadar tentang suatu hal yang sempat membuatku teralihkan perhatiannya mengenai pria itu. Pria yang bernama Syihab.

Aku kembali memperhatikan pria itu lagi. Namun apa yang kulihat? Tempat itu sudah kosong. Tidak ada lagi seorang pun yang ada di sana. Ke mana pria  bernama Syihab itu?

Kepalaku celingukan kesana kemari mencarinya. Namun tak juga menemukan. Ah, Kenapa cepat sekali ia menghilang?

“Kamu mencariku?”

Deg!

Aku menegang mendengar suara ngebas yang tiba-tiba muncul dari belakang. Ya Tuhan, apakah itu suaranya? Aku balik kanan. Dan rasanya, jantungku ketar-ketir tak menentu. Dadaku terasa berdebar-debar. Bagaimana mungkin pria ini ada di sini? Bahkan dia tahu kalau aku tengah mencarinya?

“Eh, mencarimu? Tidak! Bagaimana bisa kamu bilang begitu?” Kataku sedikit gugup. Wajahku terasa panas. Semoga tidak menimbulkan aura yang memalukan di hadapannya.

Ia tersenyum sumbang. “Sebegitu penasarannya kah dirimu sampai terus mengikutiku?” Ucapnya yang sontak membuatku terperangah. Ya Tuhan, apa itu yang dia bicarakan?

“Hey, apa maksudmu? Aku tidak bilang begitu?!” Sergahku tidak terima.

“Ya, dan aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu.”

“Dasar pria aneh! Lagipula untuk apa aku penasaran dengan pria penculik macam kamu!”

“Dan masalahkah jika aku penculik?” Ia seakan ingin menguji kesabaranku. Nadanya terdengar begitu dingin.

“Tentu! Karena kamu berbahaya!”

“Bagus. Itu artinya bersiap-siaplah kamu untuk kuculik. Karena dalam waktu dekat ini aku memang berkeinginan untuk menculikmu.” Tukasnya penuh penekanan. Lantas berlalu pergi dari hadapanku. Sedangkan aku merasakan dada ini bergemuruh hebat. Kenapa bisa ia bicara seperti itu?

“Hey…! Dasar penculik gila…!” Teriakku saat melihatnya yang berjalan menjauh. Andai di sini ada suatu benda apa pun, mungkin aku akan melemparkan ke arahnya.

Ya Tuhan, kenapa aku bisa bertemu dengan dia? Dan setiap kali bertemu dengannya, kenapa selalu saja dibuat bersungut-sungut akan sikapnya atau pun kata-katanya?

“Azkiya…” Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku. Aku menoleh. “Kamu kenapa berteriak-teriak begitu…?”

“Itu, Mbak, ada penculik gila…!”

Mbak Maisya lantas mengernyit, ia bingung. “Penculik gila?”

“Iya, Mbak, itu tuh… yang pakai celana hitam sama jas hitam.” Tunjukku pada pria itu yang kini terus berjalan. Jarak beberapa saat, pria itu masuk ke dalam mobilnya.

Ada ekspresi yang nampak membingungkan dari Mbak Maisya ketika melihat pria itu dari belakang dan kejauhan. Ia tampak diam dan seolah berupaya mengingat apa yang ia lihat. Ada apa dengannya?

“Mbak, kenapa?” Aku menyebutnya. Dan entah kenapa perbuatanku sontak membuatnya sedikit kaget.

“Ah, tidak. Cuma seperti lihat seseorang. Tapi sepertinya bukan.” Dia menggeleng seakan tidak yakin. “Ya sudah yuk, kita cari angkot buat ke pesantren.”

***

Untuk saat inilah, pasca kami turun dari angkot, Mbak Maisya menuntunku menyeberang jalan ini menuju sebuah gerbang yang bertuliskan, “Pondok Pesantren Darul Qur’an” Sebuah bangunan yang cukup menarik dan besar untuk ukuran sebuah pesantren.

Entah kenapa rasanya dadaku bergetar membaca rentetan tulisan yang ada di plang besar itu. Ada getaran tersendiri yang tumbuh dari dalam benak. Seolah aku akan memulai hal baru untuk menata hati dan jiwa. Padahal niatku hanya ingin mengantar Mbak Maisya dan sekedar ingin tahu metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran di sini.

Bayangan Ibu tiba-tiba muncul. Ayah pun demikian. Mereka berdua seakan melingkupi dalam pikiran. Di sinilah, Ayah, Ibu, aku akan menata hati dan jiwa Azkiya. Disinilah Azkiya akan melanjutkan kehidupan. Entahlah, aku sungguh tidak tahu. Yang aku tahu sekarang hanya mengikuti keinginan hati semata. Maaf, Ayah, Ibu, jika Azkiya tidak minta restu kalian…

Assalamualaikum…” Mbak Maisya beruluk salam ketika tiba di pintu ndalem. Posisinya menunduk takzim.

Untuk pertama belum ada sahutan. semuanya tampak sepi. Masalahnya jarak antara pondok dengan ndalem sedikit jauh. Membuat kami tidak tahu apakah di pondok sana keadaannya ramai atau bukan.

Waalaikumsalam” Seorang perempuan muda bertubuh semampai muncul. Dia tersenyum saat melihat Mbak Maisya. “Eh, Dik Maisya.” Panggilnya seakan begitu gembira melihat kehadirannya. Mbak Maisya lantas menyalami perempuan itu penuh takzim.

“Bagaimana, Mbak, kabarnya?” Tanya Mbak Maisya. Abah sama Ummi sugeng?”

Alhamdulillah, tapi mereka sedang ziarah. Eh, itu siapa?” Tanya perempuan itu ketika melihatku.

“Eh, iya, Mbak. Dia Azkiya, teman Maisya. Katanya dia ingin sowan kemari sambil survei. Barangkali dia minat di pondok Ini.”

“Eh…” Aku kaget mendengar ucapan Mbak Maisya. Sejak kapan aku berniat ingin survei dan akan menyantri di sini? Mbak Maisya malah mengedipkan sebelah matanya ke arahku.

“Oh, bagus dong. Ayo masuk. Kebetulan Baihaqi juga sudah balik barusan.”

“Gus Baihaqi balik, Mbak?” Tanya Mbak Maisya mengulang. langkahnya tiba-tiba berhenti di ambang pintu. “Maisya ke pondok langsung saja, Mbak, jika ada perlu nanti panggil saja ke Maisya. Ya sudah yuk, Azkiya.” Ajak Mbak Maisya yang entah kenapa merasa gugup. Seakan ia belum siap untuk bertemu dengan seseorang.

“Mbak Maisya kenapa? Kok kelihatannya gugup begitu?” Bisikku saat kami berjalan menyusuri pavingan jalan menuju asrama putri.

“Tidak apa-apa. Aku cuma ingin cepat-cepat istirahat.”

“Bohong! Pasti ada si Gus Baihaqi itu kan? Huh, Mbak, yang namanya bertemu sama orang yang disukai itu seharusnya di beranikan. Tidak usah takut atau grogi. Kalau takut, kapan kalian bisa dekat.?” Cerocosku di sisi Mbak Maisya.

“Bukan, masalahnya beda lagi. Sudah ah, lagian kenapa malah bahas Gus Baihaqi segala? Tak sopan bahas orang yang bukan mahram.” Nasihatnya. Aku berseru takzim mendengarnya.

Ya Tuhan, kenapa Engkau mempertemukan aku dengan seorang perempuan yang sebegini baiknya? Ia seolah begitu fanatik dengan hukum-hukum yang tercantum dalam agama Islam. Sedangkan aku, punya bekal apa untuk bisa memulai seperti dia? Hanya dengan sebuah nekat dan rasa terpaksa, dengan beraninya terjun ke dalam Al-quran yang jelas sekali tidak bisa untuk di permainkan sedikit pun.

***

Untuk hari pertama, aku diperkenalkan langsung oleh Mbak Maisya dengan  santri-santri yang ada disini. Semuanya nampak ramah dan mudah untuk diakrabi. Ada banyak hal yang kami bahas ketika kami berkumpul bersama. Apalagi saat-saat menjelang tidur, mereka kebanyakan menanyakan di mana aku nyantri dulu.

Untuk hari kedua, aku diajak oleh salah seorang teman Mbak Maisya. kebetulan ia sekamar dengan mbak Maisya. Icha namanya. Ia mengajakku ke sebuah aula, tempat untuk mengaji setoran hafalan. Ya, karena aku tadi yang meminta diri untuk melihat bagaimana sistem mengaji di sini.

Seperti saat ini, semua santri putri dikumpulkan di ruang aula. Ruangan yang cukup luas, batinku. Dari keseluruhan banyaknya santri di sini. Gema suara tadarusan dari hasil hafalan mereka kini mengumpul menjadi satu. Entahlah, aku tidak bisa menangkap huruf-huruf apa saja yang mereka baca. Semuanya terdengar berdengung.

Aku duduk di bagian paling belakang. Melihat seorang pengasuh dari pesantren ini, seorang Ibu Nyai yang tengah menyimakkan dari anak-anak yang hendak menyetorkan hafalannya. Ada beberapa pemandu juga yang membantu untuk menyimakkan. Termasuk Mbak Maisya yang mana ia duduk di sisi Ibu Nyai persis.

“Mbak Maisya adalah santriwati teladan di sini. Dia sudah menjadi kepercayaan Ummi. diantara santri-santri lain dialah yang paling dekat dengan Ummi.” Bisik Icha di sisiku.

Aku manggut-manggut paham. “Oh ya, Cha. Disini setorannya berapa kali sehari?”

“Dua kali. Biasanya ba’da shalat Subuh untuk setoran tambahan dan ba’da shalat Zuhur untuk setoran murojaah. Minimal untuk Mbak yang sudah  Mukhotimatun paling tidak setengah juz.”

Aku terkejut mendengarnya “Wuih… setengah juz itu tartil kah, Cha?”

“Ya yang namanya baca Alquran kan harus tartil. Pastinya tartil.”

Masalahnya untuk di pesantrenku setoran hanya satu kali dalam sehari. Pun, ba’da subuh untuk setoran tambahan. Untuk seorang yang sudah mukhotimat, Ia hanya bermuroja’ah minimal 10 juz dalam sehari. Otomatis 3 hari sudah khatam. Ya, memang metode mengaji antara pesantren satu dengan yang lain pasti mempunyai sistem tersendiri.

“Azkiya Mumtaza…!”

DEG!

Aku terkejut setengah mati mendengar ada yang memanggil namaku begitu lantang. Tahukah siapa yang memanggil? Ummi, Ibu Nyai. Beliau memanggil namaku? Entah tahu dari mana sampai beliau tahu. Sontak seluruh santri mendadak mengalihkan tatapannya ke arahku. Suasana aula mendadak sepi, sunyi, dan tidak ada suara kecuali jantungku yang berdegup kencang lantaran menjadi pusat perhatian.

“Ayo, Nak, kemari…” Lanjutnya. Beliau memintaku untuk menghadapnya.
Ya Allah, mau diapakan aku oleh Ibu Nyai?

Aku celingukan sendiri. Mendadak merasa panas di sekujur tubuhku.

Icha, ia menyikutku. “Ayo, Azkiya, kamu dipanggil sama Ummi..”

Dengan perasaan yang entah apa pun itu, aku maju. Berjalan berlutut untuk mendekati Ummi. Sesampainya aku duduk di hadapan Ummi. Namun Ummi menyuruhku untuk lebih mendekat hingga kami sedikit bersandingan.

“Azkiya Mumtaza Ishaq. Benar itu namamu.?” Tanya Ummi dengan nada yang lembut sambil tersenyum.

Aku mengangguk “Iya.”

“Kamu sudah pernah menghafal?” Tanya Ummi lagi. Aku mengangguk. “Sudah menjadi mukhotimàt, kan?” Aku mengangguk lagi. “Kalau begitu, ayo mulailah niatmu dari sekarang untuk bermurojaah di sini agar menjadi lancar. Ummi minta kamu baca juz pertama sebagai awalan biar Ummi yang menyimakmu.”

Sungguh, kali ini dadaku bergemuruh tidak menentu. Bagaimana bisa Ummi mengatakan kalau aku akan disimakkan oleh beliau? Ya Rabb, apakah aku sanggup? Padahal keinginanku datang ke sini bukan untuk ikut mengaji. Namun untuk sekarang, lihatlah! Aku terjebak dalam pembelajaran di sini. Allah, Apa yang harus kulakukan?

“Azkiya…” Panggil Ummi lagi.

Aku meliriknya sekilas. Kudapati tatapan beliau begitu lembut seakan meyakinkan diriku bahwa aku pasti bisa. Sejenak, aku memejamkan mata seraya menarik napas penuh aturan, mengontrol rasa gugup. Kuhela napas setenang mungkin, lalu bibirku terbuka. Lantas membaca ta’awudz dan basmalah serta al-fatihah berlanjut dengan surah Al-Baqarah sampai perempatan pertama. Ya, akhirnya seperempat Juz 1 bisa kumulai. Entahlah, apakah di mata Ummi bacaan dan hafalanku terlalu begitu banyak salah atau tidak. Yang jelas aku hanya mengucapkan mengikuti gerak-gerik bibirku saja.

“Alhamdulillah hafalanmu lancar. Makhrajnya juga sudah benar. Hanya saja kamu terlihat sedikit ragu. Kamu seolah tidak yakin kalau kamu bisa, Azkiya. Saran Ummi, niatkan semua dengan sepenuh hati. Yakinlah kalau kamu pasti bisa. Insya Allah jika kamu mau ikhlas dan semuanya dilakukan secara lillah, kamu akan bisa merasakan indahnya keistimewaan Al-Quran. Ingat, yang pertama adalah ikhlas. Insyaallah hafalanmu akan semakin kuat.” Tuturnya penuh makna. Namun apa yang kudapat? Hatiku terasa jatuh, sakit, dan patah.

Ya, satu kata yang membuat hatiku sakit adalah kata ikhlas. Ikhlas yang selama ini belum bisa kugapai sampai sekarang. Setahuku definisi ikhlas adalah melakukan sesuatu hanya karena dan untuk Allah semata tanpa mengharapkan imbalan apa pun kecuali ridha-Nya. Sedangkan untuk diriku, justru sangat jauh dari definisi itu sendiri. Semuanya sangat bertolak belakang. Aku melakukan ini semua bukan karena Allah. Akan tetapi karena orang tua dan semua untuk orang tua.

Aku ingat waktu awal mula menghafal di pesantren– selalu saja menangis, teringat akan kisah orang tua. Andai semua itu bukan karena orang tua, mana mungkin aku bisa terjun ke dalam Alqur’an yang tentunya bukan sesuatu hal untuk dipermainkan?
Sungguh, ingin sekali aku menggapai kata ikhlas untuk diriku sendiri. Namun Oh Tuhan… rasanya sungguh sulit dan seakan tidak akan pernah bisa.

“Ya sudah, Azkiya, nanti kamu akan dibimbing sama Mbak Maisya. Insya Allah kalau kamu mau mengikuti saran Ummi, kamu akan berhasil.” Pungkas beliau penuh motivasi. Lantas berdiri, pergi menuju ke ndalem. Menyisakan aku yang masih diliputi kebimbangan.

***

Sore itu semuanya terlihat ramai. Seluruh santri tengah beribut-ribut ria mempersiapkan diri untuk mengikuti kegiatan rutinitas seusai sholat Ashar. Ada yang mencari kitab, ada yang memakai hijabnya atau bahkan ada yang sudah berjalan keluar dari area asrama putri. Aku yang sedari tadi hanya berdiri, seolah menjadi orang linglung yang bingung karena kehilangan petunjuk.

“Azkiya, ayo siap-siap…” Icha menghampiriku. Ia sudah rapi dengan pakaian khas santri.

“Siap-siap mau ngaji?” Tanyaku santai. Ia manggut-manggut. “Ngaji apaan?”

“Ta’limul muta’allim. Abah yang ngajar langsung.”

“Aku belum punya kitabnya, eh…”

“Pakai punyaku dulu. Nanti aku bilangin ke Mbak Maisya.”

Ya, Mbak Maisya sendiri, dia tidak pernah ada bersamaku. Ia selalu sibuk di ndalem. Aku di sini hanya dipasrahkan kepada teman-teman saja. Pun, yang masih kukenal paling beberapa orang.

Seperti apa yang diperintahkan Icha. Aku pergi ke aula asrama putra untuk ikut mengaji bersama Abah. Memang Icha sempat menjelaskan setiap kali ba’da Ashar seluruh santriwan atau santriwati diwajibkan ikut kegiatan mengaji kitab Ta’limul Muta’allim sebagai pegangan orang-orang yang tengah menuntut ilmu agar tidak melampaui batas kaidah-kaidah yang diperbolehkan dalam hukum Islam. Serta ba’da isya yang diisi dengan pembelajaran mengenai tafsir Jalalain, yang mana seorang penghafal supaya tahu bagaimana maksud dari isi Alqur’an. Dengan begitu, seorang penghafal tidak akan pernah buta dengan masalah hukum-hukum agama dan Alqur’an.

Kami duduk di barisan paling depan. Dalam satu ruangan aula ini, terdapat puluhan santri putra maupun putri. Katanya ini kelas pertengahan. Dalam lembaga satu pesantren ini ada 4 tingkatan. Dan untuk diriku, aku diikutsertakan masuk ke tingkat 3 mengingat aku juga termasuk mukhotimat. Memang, satu ruangan ini antara putra dan putri digabungkan. Tetapi pembatas tentu ada, sehingga di antara santri putra maupun putri tidak bisa saling melempar pandang apa pun.

“Nih, kamu bawa buku saja dulu, biar aku yang memaknai kitabnya.” Ucap Icha duduk di sisiku seraya menyodorkan sebuah buku dan pena.

Aku menerimanya. Sebentar-bentar membuka lembaran demi lembaran. Melihat isi dari buku yang ia miliki. Rupanya semuanya berisi tentang bab ngaji. Tulisannya juga lumayan rapi. hingga setibanya di bagian pertengahan bukunya, aku menemukan sebuah grafiti yang begitu bagus. Aku membacanya di dalam hati, PRINCE BAIHAQI.

Entah kenapa aku terkekeh sendiri membacanya. Masya Allah, sebegitu menariknya kah seorang Gus dari pesantren ini sampai semua santri mendambanya dan mengidolakannya?

Tidak lama suasana ruang yang sedikit ramai berubah menjadi senyap. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Mungkin saja yang mengajar telah tiba.

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh,” Ucap seseorang dari arah depan.  Aku masih sibuk dengan grafiti Icha. Sekadar menjawab dari hati. Tidak memperhatikan seseorang yang barusan berucap salam.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh…” Ucap mereka serentak. Minus aku.

Icha tiba-tiba menyenggolku berulang kali. Entah tujuan apa yang ia lakukan.

“Ada apa, sih?” Bisikku pelan.

Icha bukannya menjawab, ia malah mengedikkan alisnya berulang kali tanpa mengalihkan perhatiannya dari depan. “Itu…”

Aku masih mengernyit bingung. Kenapa dengannya? “Ada apa?”

“Mr. Baihaqi…” Jawabannya.

Oh, Ya Allah…. Sampai segitunya ketika melihatnya? Entah kenapa aku masih enggan untuk melihat kedepan. Aku semakin tertarik dengan grafitinya yang begitu unik.

Afwan untuk sore ini kelas kalian saya yang mengisi. Abah sedang kedatangan tamu makanya saya diutus untuk menggantinya.” Ujar pria yang bernama Baihaqi di depan. Dan aku belum menyempatkan diri untuk melihatnya.

“Azkiya, bagaimana menurutmu? Mr. Baihaqi tampan, kan?” Bisik Icha di telingaku.

Aku masih diam

“Kita sudah sampai bab apa?”

“Tentang adab menuntut ilmu yang baik.” Salah seorang putra menjawabnya.

Untuk sekarang aku melihat ke depan. Kulihat seorang pria bernama Baihaqi itu tengah menulis di papan tulis. Aku hanya bisa melihatnya dari belakang. Ia mengenakan sarung hitam dengan motif garis-garis vertikal berwarna biru muda. Baju koko berwarna biru muda dan peci hitam. Terlihat rapi dan menarik dari segi postur tubuhnya. Tidak lama lagi ia membalikkan tubuhnya. Dan apa yang aku rasakan sekarang? Jantungku seperti dihantam oleh petinju profesional dalam sekali pukulan. Masya Allah… Wajah itu… Bukankah ia adalah seorang penculik gila itu?

Aku terkejut setengah mati melihatnya. Bagaimana mungkin dia ada di sini? Apakah jangan-jangan aku salah melihat? Aku mencoba mengerjapkan mata berulang kali. Ingin memastikan kenyataan apa yang kulihat. Dan rupanya, benar. Dia adalah penculik gila itu. Masya Allah… jadi Gus Baihaqi yang dimaksud semua orang di sini adalah dia? Sungguh, mimpi apa aku semalam sampai sekarang aku masih saja dipertemukan dengannya?

Dalam kebingunganku tiba-tiba ia melihat ke arahku. Sontak aku langsung berpaling untuk tidak melihatnya. Ingin sekali aku menyembunyikan wajahku. Namun tidak ada penghalang apa pun di sini yang bisa melindungiku. Mataku mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan untuk menutupi wajahku. Ku ambil buku yang sempat kubawa. Buku milik Icha. Aku menutupi wajahku agar ia tidak melihatku. Sungguh, kali ini perasaanku tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aku terlalu sulit untuk menyimpulkannya.

“Azkiya, kamu kenapa?” Bisik Icha

Hanya sebatas menggeleng seraya menunjukkan telunjukku di depan bibir. Menyuruhnya untuk diam. Tentu saja. Karena yang kubutuhkan sekarang hanyalah perlindungan.

“Dimulai adab menuntut ilmu, yang paling pokok adalah niat yang baik, serta saat mengikuti pembelajaran harus mendengarkan dan memperhatikan yang dilakukan oleh pengajarnya. Bukan malah melakukan sesuatu yang tidak penting.” Jelas Gus Baihaqi di depan. Dan kata-katanya seolah menyindirku.

Tapi toh, apa peduliku? Aku hanya tidak ingin dia tahu aku ada disini. Aku masih ingat betul dengan kata-kataku kemarin yang mengatakan bahwa dia adalah penculik gila. Dan apakah dia masih ingat kata-kataku itu? Oh, andai ia masih ingat, apa yang mesti aku lakukan?

“Apakah di sini ada yang melakukan hal terlarang itu?” Tanya Gus Baihaqi. seluruhnya terlihat sepi. Tidak ada yang menjawab. Aku juga masih diam sesekali menutupi wajahku menggunakan buku.

“Sepertinya ada di sini.” Imbuhnya yang membuatku semakin merasa gelisah. Keringatku mulai bermunculan “Kamu…”

Entah tengah menunjuk pada siapa ia  mengatakannya. Aku tidak tahu. Tetapi tanganku terasa di senggol-senggol oleh Icha.

“Azkiya, itu…” Bisik Icha dengan tatapan seolah takut.

“Apaan…?”

“Gus Baihaqi…”

Baru kali ini aku peka. Aku tersadar kalau  ternyata Gus Baihaqi ada di hadapanku. Aku sontak menurunkan bukuku. Dan kulihat, ia menatapku dengan tatapan dinginnya. Bodohnya aku malah mengangkat bukuku lagi. Menutupi wajah kembali. Sungguh, aku begitu gugup dan takut.

“Apa yang sedang kamu lakukan?” Tanyanya padaku.

“Membaca buku…” Dustaku gemetar. Masih menutupi wajahku.

“Benar kamu membaca buku?”

“Ya.”

Ngetren sejak kapan membaca buku, sedang bukunya terbalik?”

JLEP!

Untuk kali inilah, ulu hatiku tersentak. Tubuhku gemetar tiba-tiba. dan baru kusadari, rupanya buku yang kupegang sejak tadi terbalik. Ya Allah… bagaimana bisa ini terjadi? Aku segera membetulkannya. Dan untuk sekarang, aku yakin seluruh santri yang ada di sini tengah memperhatikanku. Disusul dengan tawa santri yang menggema.

Ah, sial…! Baru kali ini aku dipermalukan.

Afwan…” Ucapku lirih seraya menunduk. Wajahku sungguh panas.

“Kenapa kamu membaca buku saat penyampaian saya dimulai? Bukankah tadi sudah dijelaskan bahwa adab menuntut ilmu yang pertama adalah memperhatikan pengajar yang sedang menyampaikan?” Cerocosnya tegas seakan ia tengah berperan menjadi guru terkiller. Lihatlah! Ekspresinya sudah kentara seperti ingin marah.

Aku hanya menunduk. Tak berani menatapnya apalagi menjawabnya.

“Coba saya lihat buku apa yang sedang kamu baca sampai kamu mengesampingkan pelajaran saya?” Tiba-tiba ia merebut bukuku. Ia memperhatikan buku yang sudah ada di tangannya.

Ya Allah… apa yang ia lakukan? Dan mampus…! Di dalamnya ada sebuah grafiti yang dibuat Icha. PRINCE BAIHAQI. Ya. Aku ingat betul apa tulisannya.

Mati! Bisa-bisa aku dipermalukan olehnya. Apa yang mesti kulakukan sekarang?

Sesaat saja ia melirik ke arahku. Tidak mengatakan apapun dengan tulisan yang ada di buku itu. Ia hanya diam dan menatapku dingin. Kemudian mengembalikan buku itu lagi.

“Silakan kamu tulis shalawat nabi sebanyak limaratus.” Tukasnya. Aku terkejut mendengarnya.

“Hah… lima ratus?! Apa tidak terlalu banyak..?!” Protesku berani.

“Kalau begitu, seribu. Tidak ada tawaran lagi.” Cetusnya dan langsung kembali ke depan.

GLEG!

Aku menelan salivaku berat. Merasa tidak percaya saja dengan apa yang ia perintahkan. Ya Tuhan… apa-apaan ini sampai memberiku hukuman menulis kalimah shalawat sebanyak seribu? Seribu… seribu….! Bayangkan…! Apa dia sedang tidak waras? Sungguh, aku sangat kesal dengannya. Apakah dia berniat ingin membalas dendam akan perkataanku?

Tuhan… kenapa ia harus muncul lagi.

BACA BUKU 3 DIMENSINYA

Pastikan anda memiliki saldo di dompet inno anda.
Jika belum silahkan bisa untuk beli saldo inno terlebih dahulu

Beli Saldo Inno

Fitur ini untuk pembelian dana saldo uang digital inno

Baca 3D book disini

Jika anda sudah memiliki saldo. Klik untuk baca buku 3D Book ini

Penulis :
HYDHA AL-KHUSNA

 

Ukuran :
14 x 21

Status :
Terbit

Ketebalan :
390 Halaman

ISBN : 978-623-5304-68-7

Harga :
Rp. 92.000

Marketplace:

       

0 0 votes
Rating
Subscribe
Notify of
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Umpan Balik Sebaris
Lihat semua komentar

Top up Dana Saldo

Rp. 15.000

Bonus 100 poin

Rp. 25.000

Bonus 200 Poin

Rp. 50.000

Bonus 350 poin

Rp. 100.000

Bonus 800 poin